Perawat Jerman Terancam Dakwaan Baru: 139 Kasus Kematian Pasien Kembali Diselidiki
Baca dalam 60 detik
- Jaksa Aachen dan Cologne memeriksa 139 kasus kematian yang diduga terkait perawat yang telah dihukum seumur hidup.
- Investigasi tambahan ini berpotensi menambah hukuman bagi pelaku, yang sebelumnya terbukti membunuh 10 pasien.
- Kasus ini menyoroti celah pengawasan medis di Jerman dan memicu evaluasi prosedur di rumah sakit.

Jerman kembali dihebohkan dengan kasus malapraktik medis setelah jaksa di kota Aachen dan Cologne mengumumkan penyelidikan baru terhadap 139 kasus kematian pasien yang diduga terkait dengan seorang perawat yang telah dipenjara seumur hidup. Perawat yang diidentifikasi media sebagai Ulrich S. itu sebelumnya terbukti membunuh 10 pasien dan mencoba membunuh 27 lainnya di rumah sakit Wuerselen, dekat Aachen. Kini, penyelidikan tambahan membuka kemungkinan jumlah korban jauh lebih besar dari yang telah diputuskan pengadilan.
Menurut keterangan jaksa pada Senin (10/8), kasus-kasus baru yang diselidiki mencakup periode 2010 hingga 2022, dengan 121 kasus ditangani jaksa Aachen dan 18 kasus lainnya di Cologne. Sebanyak 40 jenazah telah diekshumasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jaksa memperkirakan dakwaan baru dapat diajukan tahun depan. Sebelum bertugas di Wuerselen, Ulrich S. diduga pernah bekerja di sebuah klinik di Cologne, yang menjadi fokus penyelidikan tambahan.
Modus operandi yang terungkap dalam persidangan sebelumnya menunjukkan bahwa Ulrich S. menyuntikkan obat penenang atau pereda nyeri dalam dosis besar kepada pasien lanjut usia. Tujuannya sederhana: mengurangi beban kerjanya saat bertugas di malam hari. Pengadilan juga menetapkan bahwa tindakannya mengandung "tingkat kesalahan yang sangat berat", sehingga ia tidak memenuhi syarat untuk pembebasan dini setelah 15 tahun penjara, sebagaimana biasanya berlaku di Jerman. Jaksa dalam persidangan menggambarkan Ulrich S. bekerja tanpa motivasi dan empati terhadap pasiennya.
Kasus Ulrich S. mengingatkan publik pada Niels Hoegel, perawat Jerman yang dijatuhi hukuman seumur hidup pada 2019 karena membunuh 85 pasien dengan suntikan mematikan antara 2000 dan 2005. Hoegel dianggap sebagai pembunuh berantai paling produktif di Jerman modern. Lebih dekat lagi, bulan lalu seorang dokter perawatan paliatif di Berlin dijatuhi hukuman seumur hidup karena membunuh 15 orang dengan sedasi berlebih, bahkan membakar apartemen korban untuk menutupi jejak. Dokter itu pun masih diselidiki untuk kasus lain.
Fenomena berulangnya kasus pembunuhan oleh tenaga medis di Jerman memicu pertanyaan serius tentang pengawasan rumah sakit dan sistem pelaporan insiden. Para ahli menilai lemahnya kontrol internal dan budaya diam di lingkungan medis menjadi celah yang dieksploitasi pelaku. Di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap praktik medis, terutama di fasilitas kesehatan yang kekurangan tenaga. Regulasi yang ada perlu dievaluasi untuk memastikan adanya mekanisme deteksi dini terhadap penyimpangan, seperti audit berkala dan saluran pelaporan yang aman bagi staf.
Ke depan, putusan pengadilan atas dakwaan baru ini akan menjadi ujian bagi sistem peradilan Jerman dalam menangani kejahatan medis berskala besar. Apakah hukuman yang dijatuhkan akan memberikan efek jera dan mendorong reformasi di sektor kesehatan? Publik menunggu, sementara keluarga korban berharap keadilan dapat ditegakkan sepenuhnya.



