Jalan Terjal Menuju Stadion Piala Dunia 2026: Tiket Mahal, Akses Terbatas, dan Larangan Berjalan Kaki
Baca dalam 60 detik
- Akses menuju MetLife Stadium di New Jersey, venue Piala Dunia 2026, sangat terbatas dengan larangan berjalan kaki dan bersepeda, serta tarif transportasi umum yang melonjak drastis.
- FIFA melarang kendaraan pribadi masuk area stadion demi keamanan dan sponsor, namun opsi transportasi alternatif seperti kereta dan bus dinilai mahal dan tidak memadai.
- Kondisi ini memicu kritik dari pejabat setempat yang menilai FIFA meraup miliaran dolar namun enggan menanggung biaya transportasi penggemar.

Menuju stadion Piala Dunia seharusnya menjadi bagian dari pengalaman yang tak terlupakan, namun bagi penggemar yang akan menyaksikan pertandingan di New Jersey, perjalanan itu justru berubah menjadi mimpi buruk. Stadion MetLife, yang kini berganti nama menjadi New York New Jersey Stadium untuk turnamen, dikelilingi oleh jalan tol berkecepatan tinggi dan akses pejalan kaki yang praktis dilarang. Tiket kereta api yang melonjak hingga delapan kali lipat dari tarif normal, bus antar-jemput yang terbatas, serta larangan berjalan kaki dan bersepeda membuat para penggemar harus merogoh kocek lebih dalam atau menghadapi perjalanan panjang yang melelahkan.
Stadion yang terletak di kawasan Meadowlands ini dibangun pada era kejayaan mobil, sehingga infrastruktur transportasi publiknya sangat minim. Menurut Moses Gates, wakil presiden Regional Plan Association, stadion ini adalah peninggalan masa lalu yang tidak ramah bagi pejalan kaki atau pengguna transportasi umum. “Dari segi aksesibilitas transportasi, stadion ini sudah ketinggalan zaman,” ujarnya. Meskipun pada 1978 sempat ada rencana pengembangan jalur sepeda yang komprehensif, hingga kini jaringan tersebut tidak pernah terwujud. Bahkan, pihak stadion membantah pernah menyediakan rak sepeda seperti yang diklaim kontraktor saat pembangunan pada 2010.
FIFA, sebagai penyelenggara, melarang kendaraan pribadi masuk ke area stadion untuk memberi ruang bagi keamanan dan stan sponsor. Akibatnya, pilihan transportasi yang tersedia sangat terbatas. Penggemar bisa memarkir mobil di pusat perbelanjaan terdekat dengan biaya US$225, naik bus antar-jemput seharga US$20 dengan kursi terbatas, atau menggunakan kereta New Jersey Transit dengan tarif US$98—melonjak dari tarif reguler US$12,90. Gubernur New Jersey, Mikie Sherrill, mengecam kebijakan ini dengan menyatakan bahwa FIFA meraup US$13 miliar dari Piala Dunia namun enggan menanggung biaya transportasi penggemar.
Seorang jurnalis yang menghadiri pertandingan Perancis vs Senegal melaporkan pengalaman pahit saat pulang. Kereta yang ditumpanginya mengalami keterlambatan, salah platform, dan bahkan ada yang tidak berhenti sama sekali. Total perjalanan pulang memakan waktu 123 menit, jauh dari kenyamanan yang diharapkan. Sebagai eksperimen, ia kemudian bersepeda ke stadion—meskipun secara teknis dilarang—dan hanya membutuhkan waktu 36 menit. Namun, tidak semua penggemar bisa atau berani melanggar aturan.
Bagi penggemar Indonesia yang berencana menyaksikan Piala Dunia 2026, tantangan akses ini perlu dipertimbangkan matang-matang. Selain biaya tiket pertandingan yang sudah mahal, biaya transportasi dan akomodasi di sekitar stadion bisa membengkak drastis. Belum lagi risiko keterlambatan dan ketidaknyamanan selama perjalanan. Pemerintah Indonesia dan komunitas suporter Tanah Air sebaiknya mulai menjalin komunikasi dengan otoritas setempat untuk mencari solusi transportasi yang lebih terjangkau, misalnya dengan menyewa bus bersama atau memanfaatkan paket wisata resmi.
Ke depan, apakah FIFA akan memperbaiki akses transportasi untuk Piala Dunia mendatang? Ataukah penggemar harus terus merelakan kenyamanan demi menyaksikan pesta sepak bola terbesar di dunia? Yang jelas, pengalaman menuju stadion tahun ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur pendukung sama pentingnya dengan pertandingan di lapangan.



