AS Roma Lepas Alessandro Romano ke Cagliari demi Patuhi Aturan Finansial
Baca dalam 60 detik
- Klub Serie A, AS Roma, menjual gelandang muda Alessandro Romano ke Cagliari dengan nilai total €6,5 juta untuk memenuhi tenggat kepatuhan finansial 30 Juni.
- Transfer ini menjadi angin segar bagi Roma yang tengah berjuang menyeimbangkan neraca keuangan di bawah tekanan Financial Fair Play, sementara negosiasi penjualan Matias Soulé masih alot.
- Romano, produk akademi Roma dan pemain timnas muda Swiss, diharapkan mendapat menit bermain reguler di Cagliari setelah hanya dua kali tampil sebagai pemain pengganti di Serie A.

AS Roma akhirnya mendapat sedikit ruang bernapas di tengah tekanan kepatuhan finansial setelah menjual gelandang muda Alessandro Romano ke Cagliari dengan nilai transfer mencapai €6,5 juta, termasuk bonus. Kesepakatan ini menjadi langkah konkret klub ibu kota Italia untuk menyeimbangkan pembukuan sebelum batas waktu 30 Juni, sebuah tenggat yang kerap menjadi momok bagi manajemen Roma dalam beberapa musim terakhir.
Menurut laporan Sky Sport Italia, Romano telah menyetujui syarat pribadi dengan Cagliari, sehingga proses transfer bisa segera rampung. Nilai awal transfer dilaporkan sebesar €5 juta, ditambah potensi bonus hingga €1,5 juta yang terkait dengan pencapaian performa pemain berusia 20 tahun tersebut. Langkah ini menjadi krusial bagi Roma yang setiap musim panas harus berjibaku memenuhi batasan ketat perjanjian penyelesaian Financial Fair Play (FFP), bahkan setelah berhasil lolos ke Liga Champions.
Penjualan Romano menjadi semacam pelepas dahaga di tengah kebuntuan negosiasi Roma dengan klub-klub lain. Salah satu aset yang santer dikabarkan akan dilepas, Matias Soulé, masih menunda keputusan terkait tawaran dari Liga Pro Saudi. Situasi ini membuat manajemen Roma harus kreatif mencari sumber pemasukan lain, termasuk melepas pemain muda yang minim pengalaman di tim utama.
Bagi Romano, kepindahan ke Cagliari bisa menjadi titik balik kariernya. Gelandang yang menghabiskan musim lalu dengan status pinjaman di Spezia (Serie B) itu hanya mencatatkan dua penampilan singkat sebagai pemain pengganti di Serie A. Di Cagliari, ia berpeluang mendapatkan menit bermain yang lebih reguler dan membuktikan kemampuannya di level tertinggi sepak bola Italia. Romano juga telah memperkuat tim nasional Swiss di berbagai kelompok usia muda, menunjukkan potensi yang belum sepenuhnya tergali.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, transfer ini mengingatkan pada pola yang kerap terjadi di klub-klub Eropa: menjual pemain muda untuk memenuhi regulasi keuangan. Di tengah gencarnya naturalisasi pemain keturunan untuk Timnas Indonesia, kisah Romano juga menjadi contoh bagaimana pemain diaspora bisa meniti karier di liga top Eropa meski tidak langsung menembus tim utama. Pertanyaan besarnya, akankah Cagliari menjadi batu loncatan bagi Romano untuk bersinar, atau justru ia akan kembali tenggelam di persaingan Serie A yang keras? Hanya waktu yang bisa menjawab.



