Gabriel Jesus Buka Peluang ke Serie A, Akui Tak Layak ke Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Arsenal Gabriel Jesus mengaku bermimpi bermain di Serie A sejak kecil dan membuka peluang hengkang ke Italia pada bursa transfer musim panas.
- Jesus mengakui minimnya menit bermain di Arsenal membuatnya tidak layak masuk skuad Brasil untuk Piala Dunia 2026, dan ia tidak menyimpan dendam pada Carlo Ancelotti.
- Juventus dan Milan dikabarkan tertarik pada Jesus yang kontraknya di Arsenal tersisa hingga 2027, dengan nilai pasar yang mungkin turun akibat performa musim ini.

Penyerang Arsenal, Gabriel Jesus, secara terbuka mengakui bahwa ia tidak layak masuk dalam skuad tim nasional Brasil untuk Piala Dunia 2026. Pernyataan itu disampaikan Jesus dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport, di mana ia juga mengungkapkan kekagumannya pada Carlo Ancelotti dan membuka peluang pindah ke Serie A pada bursa transfer mendatang.
Jesus, yang musim ini hanya mencetak enam gol dalam 27 penampilan di semua kompetisi bersama Arsenal, mengaku minimnya menit bermain menjadi penyebab utama ia tersingkir dari rencana Ancelotti. โKami berbicara pada Januari, saat saya masih mencetak gol. Sayangnya, saya tidak mendapat menit bermain di akhir musim, dan jujur, itu sebabnya saya tidak layak berada di Piala Dunia. Saya memahami situasi ini,โ ujar pemain berusia 29 tahun itu.
Dalam wawancara yang sama, Jesus mengakui bahwa ia tumbuh dengan menonton Serie A dan bermimpi bermain di Italia. โMencetak dua gol di San Siro melawan Inter seperti mewujudkan mimpi itu. Saya tidak tahu masa depan saya, saya bekerja sekarang dan kita lihat apa yang terjadi dengan Arsenal,โ katanya. Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa ia bisa menjadi salah satu pemain yang hengkang dari Emirates Stadium pada jendela transfer mendatang, dengan Juventus dan Milan disebut-sebut sebagai peminat serius.
Jesus juga memberikan pujian tinggi kepada Ancelotti, yang memilih untuk tidak memanggilnya ke Piala Dunia. โSemua orang harus menghormatinya. Dia yang paling sukses. Yang paling mengesankan saya adalah kata-kata dari mereka yang bekerja dengannya: dia terbuka, dia menjadikan tim sebagai keluarga,โ ujar Jesus. Sikap dewasa ini menunjukkan bahwa Jesus tidak menyimpan dendam, melainkan menerima keputusan pelatih dengan lapang dada.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, situasi Jesus menjadi pengingat bahwa persaingan di level tertinggi sangat ketat. Minimnya menit bermain di klub bisa berakibat fatal pada peluang membela negara, bahkan bagi pemain sekaliber Jesus. Ke depannya, keputusan Jesus untuk bertahan di Arsenal atau pindah ke Italia akan menjadi sorotan, terutama jika ia ingin kembali ke performa terbaiknya dan merebut tempat di timnas Brasil untuk turnamen berikutnya.



