Gagal ke Burnley, Craig Bellamy Kehilangan Kepercayaan Publik dan Pemain Wales
Baca dalam 60 detik
- Craig Bellamy gagal pindah ke Burnley setelah negosiasi dengan FAW buntu, memicu krisis kepercayaan terhadap komitmennya sebagai pelatih timnas Wales.
- Mantan rekan setim Iwan Roberts menilai Bellamy telah membakar banyak jembatan, sementara fans dan pemain diyakini kecewa karena ia dianggap siap meninggalkan tim untuk klub.
- FAW yang sedang tertekan finansial akibat gagal lolos ke Piala Dunia kini harus memutuskan apakah tetap mempertahankan Bellamy hingga Euro 2028 atau mencari pengganti.

Kepergian Craig Bellamy ke Burnley batal total, dan kini pelatih timnas Wales itu harus menghadapi konsekuensi serius: kehilangan kepercayaan dari pemain, penggemar, dan bahkan federasi. Mantan rekan setimnya, Iwan Roberts, secara terbuka menyatakan bahwa Bellamy telah membakar banyak jembatan setelah negosiasi dengan klub Championship tersebut gagal.
Bellamy, yang diangkat sebagai pelatih Wales pada 2024 dengan kontrak hingga 2028, dikabarkan telah melakukan pembicaraan dengan Burnley untuk menggantikan Scott Parker yang dipecat pada April lalu. Namun, kesepakatan itu buntu bukan karena masalah kompensasi ke FAW, melainkan terkait negosiasi staf pelatih yang ingin dibawa Bellamy ke Turf Moor. Situasi ini membuat posisi Bellamy di mata publik dan internal tim menjadi genting.
Roberts, yang pernah bermain bersama Bellamy di Norwich City dan timnas Wales, mengatakan bahwa FAW dan CEO Noel Mooney sadar betul bahwa Bellamy telah melirik pekerjaan lain. "Pertanyaan besarnya sekarang: apakah mereka akan tetap mempertahankannya sebagai manajer timnas?" ujar Roberts kepada S4C. Ia menambahkan bahwa Bellamy telah kehilangan banyak cinta dan kepercayaan dari para penggemar.
Mantan striker Wales Malcolm Allen juga angkat bicara. Ia memahami daya tarik pekerjaan harian sebagai manajer klub bagi Bellamy, namun mengakui bahwa situasi ini menjadi "tidak nyaman". "Masalahnya, ketika dia kembali dengan ekor di antara kaki karena tidak mendapatkan pekerjaan di Burnley, bagaimana para penggemar Wales akan merespons?" kata Allen kepada BBC Radio Cymru. Ia menambahkan bahwa sebagian suporter yang kecewa karena gagal lolos ke Piala Dunia mungkin akan mempertanyakan apakah Bellamy layak dipertahankan.
Allen juga menyoroti kondisi finansial FAW yang sedang tidak baik akibat absennya tim dari Piala Dunia. "Secara finansial, FAW tidak punya banyak uang saat ini setelah kita gagal lolos ke Piala Dunia. Jadi Bellamy harus memenangkan kembali hati para penggemar, dan satu-satunya cara adalah dengan memenangkan pertandingan," tegasnya.
Di sisi lain, legenda Wales Gareth Bale sebelumnya menyebut kepergian Bellamy akan menjadi pukulan berat bagi tim. Namun, dengan gagalnya kepindahan ini, Bellamy harus bekerja ekstra untuk memulihkan hubungan yang retak. Para pemain, menurut Roberts, pasti tahu bahwa Bellamy akan pergi jika diberi kesempatan. "Itu setelah dia mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan terbaik di dunia dan betapa dia menantikan memimpin Wales ke Euro berikutnya," kenang Roberts.
Bagi Indonesia, kisruh ini menjadi pelajaran tentang pentingnya komitmen seorang pelatih terhadap proyek jangka panjang. Di tengah upaya PSSI membangun timnas yang stabil, kasus Bellamy menunjukkan betapa cepat kepercayaan bisa luntur jika seorang pelatih dianggap tidak setia. Ke depan, publik Wales akan mengawasi setiap langkah Bellamy: apakah ia mampu membawa tim bangkit dan melupakan drama transfer ini, atau justru akan semakin terpuruk?



