Piala Dunia 48 Tim: Cerita Indah Tanpa Ketegangan, Format Baru Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Ekspansi Piala Dunia menjadi 48 tim membuka peluang bagi negara kecil seperti Cape Verde, namun mengurangi daya saing di fase grup karena tim besar nyaris tanpa ancaman.
- FIFA mengubah aturan tiebreaker menjadi head-to-head, yang justru membuat beberapa laga terakhir kehilangan urgensi dan memicu ketidakadilan bagi tim yang harus menunggu hasil grup lain.
- Dominasi Afrika dengan sembilan dari sepuluh wakilnya lolos ke fase gugur menjadi sorotan, sementara Asia dan Concacaf menunjukkan performa buruk yang mempertanyakan kelayakan jatah tambahan.

Piala Dunia edisi perdana dengan 48 peserta telah melahirkan kisah heroik Cape Verde yang sukses menembus babak 32 besar, tetapi di balik dongeng tersebut, format baru ini justru menuai kritik karena minimnya ketegangan bagi negara-negara raksasa. Presiden FIFA Gianni Infantino mungkin tersenyum puas melihat Cape Verde—negara kepulauan di Atlantik—menyingkirkan Uruguay, namun pertanyaan mendasar tetap menggantung: apakah perluasan ini benar-benar meningkatkan kualitas turnamen?
Fase grup yang berlangsung selama dua pekan menyajikan 72 pertandingan, tetapi hanya sedikit laga yang benar-benar menentukan nasib tim besar. Dari 12 unggulan teratas, hanya Kanada dan Portugal yang gagal memuncaki grup. Sisanya melenggang tanpa hambatan berarti. Penyebab utamanya adalah keputusan FIFA menggunakan head-to-head sebagai tiebreaker pertama, bukan selisih gol. Akibatnya, empat tim sudah memastikan status juara grup sebelum laga terakhir, sementara lima tim lainnya sudah tersisih lebih awal. Jika FIFA tetap memakai selisih gol, setiap tim masih memiliki peluang hingga menit akhir.
Kisah Cape Verde memang sulit ditandingi. Kiper veteran Vozinha, 40 tahun, menjadi fenomena media sosial setelah penampilan gemilangnya melawan Spanyol. Jumlah pengikut Instagramnya melonjak dari 50.000 menjadi 16,7 juta hanya dalam beberapa hari. Ibunya yang sempat terkendala visa AS akhirnya bisa terbang ke Miami untuk menyaksikan laga melawan Uruguay. Namun, cerita semacam ini hanya menutupi fakta bahwa banyak pertandingan berjalan timpang. Dari 18 laga yang dimenangkan dengan selisih tiga gol atau lebih, hanya sedikit yang menyajikan perlawanan sengit. Rata-rata gol per pertandingan fase grup mencapai 2,99—tertinggi sejak 1998—tetapi angka ini lebih mencerminkan dominasi tim kuat daripada kualitas pertandingan yang ketat.
Pelatih Ghana Carlos Queiroz, yang timnya lolos sebagai peringkat ketiga terbaik, dengan gamblang menyebut format baru ini "vulgar dan biasa-biasa saja". Ketidakadilan sistem peringkat ketiga semakin terlihat ketika tim seperti Senegal sengaja mengejar gol besar (5-0 atas Irak) demi memperbaiki selisih gol, sementara tim lain seperti Australia dan Paraguay memilih bermain aman dengan hasil imbang 0-0 yang menguntungkan kedua belah pihak. Pertandingan Austria vs Aljazair yang berakhir 3-3 menjadi contoh ekstrem: kedua tim sadar hasil imbang sudah cukup untuk lolos, sehingga intensitas permainan menurun drastis setelah menit ke-68.
Bagi Indonesia, perdebatan format Piala Dunia ini relevan dengan ambisi Garuda menembus putaran final. Jika FIFA mempertahankan sistem 48 tim, peluang Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2034 atau 2038 semakin terbuka. Namun, performa buruk Asia pada edisi ini—hanya dua dari sembilan wakil yang lolos—menunjukkan bahwa jatah tambahan belum sebanding dengan kualitas. Federasi Sepak Bola Asia (AFC) perlu mengevaluasi pembinaan agar tidak hanya menjadi "pelengkap" di panggung terbesar. Sementara itu, kesuksesan Afrika membuktikan bahwa dengan persiapan matang, negara-negara non-unggulan mampu bersaing.
Memasuki babak gugur yang melibatkan 32 tim—setara dengan ukuran Piala Dunia lama—pertanyaan besarnya adalah: akankah ketegangan yang hilang di fase grup kembali muncul? Atau justru format baru ini hanya memperpanjang proses eliminasi tim-tim lemah sebelum akhirnya menyisakan deretan raksasa seperti biasa? Satu hal pasti, FIFA harus berani mengakui bahwa lebih banyak tim tidak selalu berarti lebih baik.



