Purbaya: Investor China Tak Peduli Peringkat S&P dan Moody's, Panda Bond Tetap Laris
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan investor China tidak terpengaruh oleh peringkat kredit dari S&P dan Moody's dalam membeli Panda Bond Indonesia.
- Panda Bond senilai yuan akan diterbitkan akhir Juli 2026 dengan penilaian dari lembaga pemeringkat China, yang diperkirakan memberikan hasil positif.
- Langkah ini menjadi strategi diversifikasi pendanaan di tengah penurunan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody's dan S&P.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa rencana penerbitan surat utang berdenominasi yuan, atau Panda Bond, pada akhir Juli 2026 tidak akan terganjal oleh pemangkasan peringkat dari lembaga pemeringkat internasional. Pasalnya, investor di China disebut tidak menjadikan rating dari S&P maupun Moody's sebagai acuan utama.
"Saya rasa, mereka tidak peduli rating dari pemeringkat internasional soal Panda Bond. Mereka akan melihat pemeringkat dari China seperti apa," ujar Purbaya dalam media briefing di Kementerian Keuangan, Jumat (26/6). Menurutnya, lembaga pemeringkat China akan mengumumkan hasil penilaian beberapa hari sebelum obligasi dijual, dan ia optimistis hasilnya akan "amat baik".
Pernyataan ini muncul setelah Moody's pada April lalu merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski tetap mempertahankan level Baa2. S&P juga mempertahankan peringkat di BBB/Stable/A-2, namun menilai Indonesia sebagai salah satu negara yang paling rentan jika konflik global dan gangguan pasar energi berlanjut. Dalam konteks ini, pemerintah Indonesia justru melirik pasar China sebagai alternatif pendanaan yang lebih resisten terhadap sentimen lembaga rating Barat.
Bagi investor Indonesia, langkah ini menandai pergeseran strategi pembiayaan utang pemerintah. Selama ini, Indonesia sangat bergantung pada persepsi pasar global yang tercermin dari rating S&P, Moody's, dan Fitch. Namun, dengan semakin dalamnya hubungan ekonomi dengan China, termasuk melalui skema Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), pemerintah mulai memanfaatkan pasar obligasi yuan yang likuiditasnya besar dan relatif independen dari gejolak pasar dolar AS.
Purbaya menegaskan bahwa lembaga pemeringkat China akan segera mengumumkan peringkatnya. "Hasilnya sih kita kira-kira amat baik," katanya, tanpa menyebut angka pasti. Optimisme ini didasari oleh fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid, meskipun ada tekanan fiskal akibat kenaikan harga energi dan belanja subsidi. Di sisi lain, S&P sebelumnya memperingatkan bahwa indikator kredit Indonesia lebih sensitif terhadap pelemahan fiskal dan eksternal dibandingkan negara berkembang lain di Asia Tenggara.
Keputusan untuk menerbitkan Panda Bond juga menjadi ujian bagi kredibilitas lembaga pemeringkat China di mata investor global. Jika hasilnya positif, bukan tidak mungkin Indonesia akan lebih sering menerbitkan obligasi di pasar yuan ke depan. Namun, jika terjadi gagal bayar atau penurunan peringkat, hal itu bisa mempengaruhi persepsi terhadap instrumen utang Indonesia secara lebih luas. Pertanyaan besarnya: apakah investor China benar-benar akan mengabaikan sinyal negatif dari Moody's dan S&P, atau justru menjadikannya sebagai bahan pertimbangan tambahan?



