Krisis di Quantic Dream: 115 Karyawan Mogok, Nasib Star Wars Eclipse Terancam
Baca dalam 60 detik
- Seluruh staf Quantic Dream—115 orang—melakukan aksi mogok kerja, memprotes beban kerja berat dan manajemen yang dinilai tidak komunikatif.
- Aksi ini membahayakan penyelesaian Star Wars Eclipse, proyek ambisius yang sudah tertunda sejak diumumkan pada 2021.
- NetEase, induk perusahaan asal China, belum memberikan pernyataan resmi, meninggalkan tanda tanya besar soal masa depan studio.

Seratus lima belas karyawan Quantic Dream, studio pengembang gim asal Prancis, resmi melakukan aksi mogok kerja pada pekan ini. Mereka menuntut perbaikan kondisi kerja dan mengecam gaya manajemen yang dinilai otoriter serta minim dialog. Aksi ini langsung memicu kekhawatiran akan kelanjutan proyek paling ambisius studio tersebut, Star Wars Eclipse, yang pengumumannya sudah lima tahun lalu namun belum juga menunjukkan tanda-tanda rampung.
Menurut perwakilan pekerja, akar masalah bukan sekadar kelelahan biasa. Beban kerja yang terus menumpuk, ditambah dengan gelombang pengunduran diri staf kunci, telah menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. Keputusan manajemen yang kontroversial—seperti alokasi sumber daya yang tidak jelas dan kurangnya transparansi—semakin memperburuk situasi. Para pengunjuk rasa bahkan mengusung slogan "mogok untuk menyelamatkan Star Wars Eclipse," menegaskan bahwa hanya dengan perbaikan kondisi kerja proyek tersebut bisa diselesaikan tepat waktu.
Di sisi lain, pihak manajemen Quantic Dream membantah bahwa aksi mogok akan berdampak signifikan terhadap jadwal pengembangan. Mereka mengklaim proses produksi tetap berjalan seperti biasa. Namun, pernyataan ini sulit dipercaya mengingat proyek Star Wars Eclipse sendiri sudah beberapa kali mengalami kemunduran sejak pertama kali diperkenalkan pada 2021. Gim multipemain terakhir studio, Spellcasters Chronicles, juga gagal di pasaran, menambah tekanan finansial dan reputasi.
Yang menarik perhatian adalah sikap diam induk perusahaan, NetEase, raksasa gim asal China yang juga menaungi Marvel Rivals dan Where Winds Meet. Hingga berita ini diturunkan, NetEase belum mengeluarkan pernyataan resmi. Ketiadaan respons ini menimbulkan spekulasi: apakah NetEase akan turun tangan menengahi, atau justru mempertimbangkan restrukturisasi yang lebih drastis? Dalam industri gim global, campur tangan pemilik seringkali berujung pada pemutusan hubungan kerja massal atau pengalihan proyek.
Bagi industri gim Indonesia, kisruh di Quantic Dream menjadi pengingat bahwa tekanan produksi gim AAA (anggaran besar) tidak hanya terjadi di studio lokal. Banyak pengembang Tanah Air yang juga bergelut dengan crunch time dan ketidakpastian pendanaan. Jika studio sekelas Quantic Dream—dengan dukungan waralaba sebesar Star Wars—saja bisa terguncang, bagaimana dengan studio independen di Indonesia yang sumber dayanya jauh lebih terbatas? Kasus ini membuka diskusi tentang pentingnya keseimbangan antara ambisi kreatif dan kesejahteraan pekerja.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Star Wars Eclipse benar-benar dirilis, atau justru menjadi proyek ambisius yang kandas di tengah jalan? Dengan kondisi internal yang kacau dan pemilik yang bungkam, nasib gim yang dinanti-nanti penggemar Star Wars itu kini berada di ujung tanduk. Satu hal yang pasti: aksi mogok ini bukan sekadar protes buruh, melainkan sinyal bahwa industri gim global harus segera berbenah.



