Keputusan Kontroversial PSSI Arab Saudi: Ganti Pelatih Jelang Piala Dunia Berujung Petaka
Baca dalam 60 detik
- Arab Saudi gagal meraih kemenangan di Piala Dunia 2026 setelah mengganti pelatih Herve Renard dengan Georgios Donis hanya dua bulan sebelum turnamen.
- Keputusan mendadak itu menuai kritik karena Donis tidak punya cukup waktu untuk membangun tim, dan hasilnya tim hanya mencetak satu gol dalam tiga pertandingan.
- Federasi dikabarkan akan kembali memecat Donis, memicu pertanyaan tentang stabilitas kepelatihan jelang persiapan Piala Dunia 2034.

Keputusan Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) untuk mengganti pelatih hanya beberapa pekan sebelum Piala Dunia 2026 berbuntut panjang. Tim berjuluk The Green Falcons itu harus pulang lebih awal setelah gagal meraih satu pun kemenangan di Grup H, memicu kritik tajam terhadap langkah berani yang justru menjadi bumerang.
Pada April lalu, SAFF memutuskan untuk memecat Herve Renard—pelatih asal Prancis yang sukses membawa tim lolos ke putaran final—dan menunjuk Georgios Donis dari Yunani. Harapannya, pergantian itu bisa membangkitkan performa tim yang sedang menurun di laga uji coba. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Arab Saudi hanya mampu bermain imbang melawan Uruguay dan Cape Verde, serta dihancurkan Spanyol 4-0. Total, mereka hanya mencetak satu gol sepanjang turnamen.
Kegagalan ini langsung memicu spekulasi soal masa depan Donis. Media lokal Al-Riyadiyah melaporkan bahwa SAFF tengah mempertimbangkan untuk memecat pelatih asal Yunani itu setelah hanya enam pertandingan. Nama Jorge Jesus, mantan arsitek Al-Hilal, disebut-sebut sebagai kandidat pengganti. Jika benar, ini akan menjadi pergantian pelatih kedua dalam waktu singkat, menambah panjang daftar ketidakstabilan di tubuh tim nasional.
Donis sendiri mengakui keterbatasan waktu persiapan. Usai laga imbang melawan Uruguay, ia mengungkapkan bahwa ia baru tiga pekan bekerja sama dengan para pemain dan masih dalam tahap pengenalan. "Karena kurangnya waktu, kami tidak bisa fleksibel selama pertandingan," ujarnya, seperti dikutip media setempat. Pernyataan itu seolah menjadi pengakuan bahwa keputusan federasi terlalu tergesa-gesa.
Di luar soal pelatih, kegagalan ini juga membuka diskusi yang lebih dalam tentang masa depan sepak bola Arab Saudi. Liga domestik, Saudi Pro League, dalam beberapa tahun terakhir mengalami transformasi besar-besaran dengan mengimpor bintang-bintang dunia. Namun, mantan pelatih timnas Roberto Mancini berkali-kali memperingatkan bahwa menit bermain pemain lokal justru tergerus. "Banyak pemain nasional tidak mendapatkan waktu bermain yang cukup di klub," kata Mancini, menyoroti dampak jangka panjang terhadap kualitas timnas.
Persoalan struktural ini diperkirakan tidak akan hilang dalam waktu dekat. Namun, untuk saat ini, sorotan utama tetap tertuju pada keputusan kontroversial mengganti pelatih di saat kritis. Dengan ambisi besar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, Arab Saudi harus segera menemukan formula yang tepat—baik di kursi pelatih maupun dalam pengembangan pemain muda—jika tidak ingin kegagalan serupa terulang di panggung terbesar sepak bola dunia.



