Laos Gencarkan Diplomasi Investasi: JETRO Jadi Kunci Tarik Modal Jepang
Baca dalam 60 detik
- Wakil Perdana Menteri Laos Thongsavanh Phomvihane bertemu dengan pimpinan JETRO untuk memperkuat kerja sama investasi Jepang.
- JETRO telah memfasilitasi 10.000 pelaku bisnis Jepang dan membantu kesepakatan di sektor pertanian, manufaktur, dan transportasi.
- Investasi Jepang di Laos mencapai US$157 juta dalam 93 proyek sejak 1989, dengan tambahan US$185 juta di Zona Ekonomi Khusus.

Pemerintah Laos mengambil langkah strategis dengan mempererat hubungan bersama Japan External Trade Organisation (JETRO) guna menarik lebih banyak investasi Negeri Sakura. Langkah ini diharapkan mampu memperluas kerja sama ekonomi bilateral yang telah berlangsung puluhan tahun.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Laos, Thongsavanh Phomvihane, menyampaikan komitmen tersebut saat menerima delegasi JETRO di Vientiane, Senin (26/6). Delegasi dipimpin oleh Kepala Perwakilan JETRO yang akan habis masa tugasnya, Kikuchi Yasushi, dan penggantinya, Kawano Mitsuhiro. Thongsavanh mengapresiasi dedikasi Kikuchi selama lima tahun terakhir (2021โ2026) yang dinilai berperan besar dalam memperkuat persahabatan dan kerja sama kedua negara.
Dalam pertemuan itu, Thongsavanh menekankan kesiapan Kementerian Luar Negeri dan instansi terkait untuk bekerja erat dengan JETRO guna memperluas perdagangan, investasi, dan kerja sama pembangunan. Pihak Jepang pun berjanji terus memperkuat kemitraan, khususnya di sektor perdagangan dan investasi. JETRO sendiri merupakan lembaga pemerintah Jepang di bawah Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri yang bertugas mempromosikan investasi dan kerja sama bisnis dengan negara mitra.
Kantor perwakilan JETRO di Laos berdiri sejak 2014 dan telah menjadi jembatan penting antara pengusaha Jepang dan pasar Laos. Pada 2025, pemerintah Laos bahkan menganugerahkan Medali Persahabatan kepada JETRO sebagai pengakuan atas kontribusinya dalam promosi investasi dan pembangunan sosial-ekonomi. Angka-angka tersebut mengemuka dalam Forum Bisnis Laos-Jepang di Tokyo, 11 Juni lalu, yang digelar bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone ke Jepang untuk menghadiri Konferensi Internasional Masa Depan Asia ke-31. Forum itu juga menjadi bagian dari perayaan 71 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
Deputi Menteri sekaligus Wakil Ketua Komite Promosi dan Manajemen Investasi, Phonevanh Outhavong, mengungkapkan bahwa Jepang merupakan investor asing terbesar ke-14 di Laos dengan investasi langsung lebih dari US$144 juta. Sektor pertanian menjadi primadona dengan nilai investasi sekitar US$59 juta, disusul industri dan kerajinan tangan US$30 juta, pengolahan kayu hampir US$20 juta, jasa US$13 juta, serta garmen dan tekstil sekitar US$5 juta.
Bagi Indonesia, pola kemitraan Laos-Jepang ini bisa menjadi pelajaran berharga. Jepang selama ini menjadi salah satu mitra dagang dan investor utama di Indonesia, terutama di sektor manufaktur dan infrastruktur. Namun, pendekatan Laos yang lebih terfokus pada sektor pertanian dan pengolahan kayu menunjukkan adanya diversifikasi yang patut dicermati. Indonesia juga memiliki potensi besar di sektor pertanian dan industri pengolahan yang bisa ditawarkan kepada investor Jepang, terutama dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang mirip dengan Zona Ekonomi Khusus di Laos.
Pertemuan antara pejabat tinggi Laos dan JETRO ini menandai babak baru dalam hubungan bilateral yang sudah berjalan tiga dekade. Kedua pihak sepakat untuk terus mencari peluang investasi baru yang mendukung pembangunan berkelanjutan Laos. Pertanyaannya, apakah Indonesia mampu mengadopsi strategi serupa untuk menarik lebih banyak investasi Jepang di luar sektor tradisional seperti otomotif dan elektronik?



