Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Melonguane Sulut, BMKG: Tak Berpotensi Tsunami
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi magnitudo 5,1 mengguncang wilayah Melonguane, Sulawesi Utara, pada Jumat (26/6) dini hari pukul 04.17 WIB.
- Pusat gempa berada di laut, 613 km timur laut Melonguane dengan kedalaman 10 km, sehingga getaran tidak dirasakan signifikan oleh warga.
- BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun tetap mengimbau masyarakat waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,1 mengguncang wilayah perairan timur laut Melonguane, Sulawesi Utara, pada Jumat (26/6/2026) dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, meski lokasinya berada di laut dengan kedalaman dangkal.
Dalam rilis resmi yang diunggah melalui akun media sosial X, BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 04.17.55 WIB. Episenter gempa terletak di koordinat 9,51 Lintang Utara dan 127,05 Bujur Timur, tepatnya 613 kilometer arah timur laut dari Melonguane, ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud. Kedalaman gempa hanya 10 kilometer, termasuk kategori gempa dangkal yang kerap memicu guncangan lebih terasa di permukaan.
Meski berpusat di laut, getaran gempa dilaporkan tidak menimbulkan kerusakan berarti atau korban jiwa. Jarak episenter yang sangat jauh dari daratanโlebih dari 600 kmโmenyebabkan energi gempa meredam sebelum mencapai pemukiman. BMKG pun tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami, karena parameter gempa tidak memenuhi kriteria pembangkit gelombang besar.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, dalam pernyataan terpisah, mengingatkan bahwa meskipun gempa ini tidak berdampak langsung, wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya tetap berada dalam zona seismik aktif. Pertemuan lempeng tektonik di Laut Maluku dan Laut Filipina kerap memicu gempa bumi dengan mekanisme yang kompleks. Masyarakat di pesisir timur Sulawesi Utara, termasuk Kepulauan Talaud, Sangihe, dan Sitaro, diimbau untuk selalu memahami jalur evakuasi dan prosedur keselamatan.
Bagi pembaca di Indonesia, gempa ini menjadi pengingat bahwa negeri ini berada di salah satu kawasan paling rawan gempa di dunia. Setiap kejadian, sekecil apa pun, harus direspons dengan kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Data BMKG menunjukkan bahwa rata-rata terjadi lebih dari 7.000 gempa per tahun di Indonesia, mayoritas dengan magnitudo kecil hingga menengah dan tidak merusak.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan mampu menjangkau masyarakat di daerah terpencil seperti Kepulauan Talaud. Dengan jarak episenter yang ekstrem, akurasi informasi dan kecepatan diseminasi menjadi kunci utama dalam mitigasi risiko gempa bumi di Indonesia.



