Ketika Mughal Punya Jaringan Berita: Akhbarat, Cikal Bakal Media Massa di Abad ke-17
Baca dalam 60 detik
- Jaringan akhbarat Mughal, yang terdiri dari ribuan laporan harian, menjadi sistem informasi paling canggih di dunia pra-modern, menghubungkan istana pusat dengan provinsi.
- Sejarawan Munis D. Faruqui menghabiskan hampir dua dekade meneliti 6.500 halaman laporan ini, mengungkap peran politik putri kaisar dan minimnya bukti konversi agama massal.
- Koleksi akhbarat yang tersebar di India dan Inggris masih menyimpan banyak cerita yang belum tergali, menawarkan potensi riset besar bagi sejarawan masa depan.

Jauh sebelum media cetak Eropa merevolusi penyebaran informasi, Kekaisaran Mughal di India telah memiliki mesin berita yang tak kalah canggih: akhbarat, laporan harian yang ditulis tangan dalam bahasa Persia, mengalir setiap hari dari istana kekaisaran ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan. Jaringan ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi yang memungkinkan sebuah imperium yang menguasai seperempat populasi dunia saat itu tetap terintegrasi.
Para juru tulis, agen, dan sekretaris kekaisaran menyusun akhbarat dengan cepat di atas kertas rapuh, memuat intrik istana, kampanye militer, pengangkatan pejabat, keuangan, hingga gosip. Laporan-laporan ini dibacakan di hadapan para pejabat di provinsi-provinsi jauh, menjadi jembatan antara pusat kekuasaan dan daerah. Selama berabad-abad, puluhan ribu halaman dokumen ini teronggok di perpustakaan dan arsip di India dan Inggris, nyaris tak tersentuh.
Munis D. Faruqui, sejarawan dari University of California, Berkeley, memutuskan untuk menyelami lautan dokumen itu sejak 2007. Ia memusatkan perhatian pada koleksi Akhbarat-i Darbar-i Mualla (Buletin Istana Agung) yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Kolkata, terdiri dari 21 jilid yang mencakup masa pemerintahan Kaisar Aurangzeb (1658โ1707). Lebih dari 6.500 halaman ia baca, mengikuti jejak para pangeran, jenderal, bangsawan, wanita istana, kasim kekaisaran, dan banyak lagi.
Hasil penelitian Faruqui, yang akan segera terbit dalam bentuk buku, menawarkan potret segar tentang Aurangzebโkaisar paling kontroversial dalam sejarah Indiaโdan bagaimana kekaisaran Mughal benar-benar bekerja. Yang menarik, temuan Faruqui justru membalikkan banyak asumsi umum. Misalnya, ia menemukan sedikit bukti tentang konversi agama massal yang sering dikaitkan dengan istana Aurangzeb. Selain itu, harem kekaisaran dan para kasim memiliki pengaruh politik yang jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
"Setiap kali bekerja dengan akhbarat, saya seperti mendapat momen eureka berturut-turut," ujar Faruqui. "Saya takjub betapa padatnya ekosistem informasi pada masa itu." Menurutnya, laporan-laporan ini menunjukkan bahwa negara Mughal memiliki pemahaman yang luar biasa canggih tentang wilayahnya yang luas, meskipun kemampuannya untuk bertindak berdasarkan informasi itu bervariasi.
Bagi Indonesia, kisah akhbarat Mughal memberikan perspektif menarik tentang bagaimana kerajaan-kerajaan Nusantara, seperti Mataram, Banten, atau Makassar, mungkin juga memiliki sistem informasi sendiri yang belum banyak diteliti. Tradisi lisan, surat menyurat antar kerajaan, dan laporan para pedagang bisa jadi merupakan bentuk "akhbarat" versi lokal. Penelitian Faruqui mengingatkan bahwa sejarah komunikasi di dunia non-Barat masih menyimpan banyak misteri.
Faruqui mengakui bahwa meneliti akhbarat bukanlah tugas mudah. "Mencari sesuatu di dalamnya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami," katanya. Tanpa indeks, dibutuhkan kesabaran dan stamina untuk membaca halaman demi halaman. Namun, ia yakin masih banyak buku yang bisa ditulis dari bahan-bahan yang menunggu sejarawan pemberani. "Begitu membuka halaman pertama, saya langsung menyadari betapa luar biasanya sumber daya ini. Ada begitu banyak alur cerita yang selama ini diabaikan," pungkasnya. Pertanyaannya kini: akankah ada sejarawan Indonesia yang tertarik menelusuri "akhbarat" versi Nusantara?



