Festival Laut Khanh Hoa 2026: Pesta Budaya dan Pariwisata yang Kini Digelar Tahunan
Baca dalam 60 detik
- Khanh Hoa Sea Festival 2026 akan berlangsung 17-19 Juli di Nha Trang dengan lebih dari 40 kegiatan budaya, seni, olahraga, dan pariwisata.
- Festival yang sebelumnya digelar dua tahun sekali kini menjadi agenda tahunan, menandai komitmen provinsi untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kelautan.
- Dengan target 800.000 pengunjung, acara ini diharapkan mendorong kerja sama regional dan menjadi contoh bagi destinasi wisata bahari di Asia Tenggara.

Provinsi Khanh Hoa, Vietnam, akan menggelar Festival Laut (Sea Festival) 2026 pada 17-19 Juli mendatang di kawasan Nha Trang. Ajang yang mengusung tema “Warna Samudra – Jangkauan Internasional” ini menawarkan lebih dari 40 kegiatan yang mencakup seni, budaya, olahraga, dan pariwisata. Yang membedakan edisi kali ini adalah perubahan frekuensi penyelenggaraan: dari semula dua tahun sekali menjadi agenda tahunan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Khanh Hoa, Thai Thi Le Hang, menjelaskan bahwa keputusan menggelar festival setiap tahun diambil untuk memperkuat citra provinsi sebagai destinasi aman, berkualitas, menarik, dan ramah. “Kami ingin menjadikan Khanh Hoa sebagai pusat pariwisata berkelanjutan, ekonomi kelautan, perdagangan, dan jasa,” ujarnya. Langkah ini juga dinilai sebagai respons terhadap persaingan ketat pariwisata regional pasca-pandemi.
Pembukaan festival akan dimeriahkan oleh penampilan para penyanyi terkenal Vietnam seperti Hoa Minzy, Duc Phuc, Anh Khoa, dan Lam Bao Ngoc, serta pertunjukan kembang api dataran rendah dan tinggi. Acara ini juga akan menyoroti empat warisan budaya dan alam berskala internasional di Khanh Hoa, termasuk tiga situs UNESCO dan satu situs warisan alam. Siaran langsung akan ditayangkan oleh Televisi Nasional Vietnam (VTV).
Salah satu daya tarik utama adalah karnaval dan parade mobil hias yang digelar pada 18 Juli di Jalan Tran Phu, dengan partisipasi lebih dari 2.000 seniman. Panitia juga telah bekerja sama dengan penginapan untuk menerapkan kebijakan stabilisasi harga, mendorong diskon tarif kamar, dan menawarkan program promosi bagi wisatawan selama festival. Langkah ini diharapkan dapat menarik sekitar 800.000 pengunjung, baik domestik maupun internasional.
Bagi Indonesia, penyelenggaraan festival tahunan ini memberikan gambaran bagaimana sebuah provinsi dapat memanfaatkan even budaya sebagai motor penggerak ekonomi dan diplomasi pariwisata. Dengan potensi bahari yang tak kalah besar, daerah seperti Bali, Lombok, atau Raja Ampat bisa meniru strategi Khanh Hoa dalam mengemas festival tahunan yang terintegrasi dengan promosi warisan budaya dan kebijakan harga yang ramah wisatawan. Keberhasilan Khanh Hoa dalam menarik ratusan ribu pengunjung juga menjadi tolok ukur bagi destinasi serupa di Asia Tenggara.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah model festival tahunan ini mampu mempertahankan kualitas dan daya tarik tanpa menimbulkan kejenuhan pasar. Khanh Hoa tampaknya telah menyiapkan formula dengan terus menghadirkan konten segar dan melibatkan pelaku usaha lokal. Jika sukses, bukan tidak mungkin provinsi lain di Vietnam dan negara tetangga akan mengikuti jejak serupa.



