Bungie Kembali Diguncang Gelombang PHK Massal, CEO Justin Truman Mundur dalam Waktu Kurang Setahun
Baca dalam 60 detik
- Bungie memecat sekitar 400 karyawan, lebih dari separuh total tenaga kerja, dalam restrukturisasi besar-besaran.
- CEO Justin Truman yang baru menjabat sejak Agustus 2025 memutuskan mundur, menambah ketidakpastian masa depan studio.
- Hampir seluruh pengembang Destiny dan sebagian tim Marathon terkena dampak, mengancam kelanjutan proyek andalan Bungie.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali melanda Bungie, studio di balik waralaba game populer Destiny dan Marathon. Kamis lalu, perusahaan mengumumkan pemecatan sekitar 400 karyawan—lebih dari separuh total tenaga kerja—hanya berselang beberapa bulan setelah perombakan kepemimpinan. Langkah drastis ini langsung diikuti pengunduran diri Justin Truman, yang baru menjabat sebagai CEO sejak Agustus 2025 menggantikan Pete Parsons.
Keputusan Truman mundur kurang dari setahun setelah menjabat mengejutkan banyak pihak. Bloomberg melaporkan, melalui jurnalis Jason Schreier, bahwa Truman telah meninggalkan posisinya di tengah kekacauan internal. Sebelumnya, Bungie sudah beberapa kali melakukan PHK besar-besaran sejak diakuisisi Sony Interactive Entertainment pada 2022. Namun, kali ini skalanya paling parah: 400 orang dari total sekitar 700 karyawan.
Dampak PHK tidak merata. Menurut laporan terkini, hampir semua pengembang yang menggarap Destiny 2 dan konten terkait telah diberhentikan. Beberapa anggota tim Marathon, proyek tembak-menembak baru yang diumumkan tahun lalu, juga ikut terkena. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar soal kelanjutan kedua waralaba tersebut. Destiny 2 masih memiliki basis pemain setia, sementara Marathon diharapkan menjadi andalan baru Bungie.
Bagi industri game Indonesia, gejolak di Bungie menjadi pengingat akan volatilitas sektor ini. Banyak studio besar di Tanah Air yang bergantung pada proyek outsourcing atau lisensi dari penerbit global. PHK massal di perusahaan induk bisa berdampak pada kontrak kerja sama, termasuk potensi pengurangan proyek yang melibatkan pengembang lokal. Selain itu, keputusan Sony untuk tidak campur tangan secara langsung dalam manajemen Bungie—seperti terlihat dari mundurnya Truman—menunjukkan bahwa akuisisi tidak selalu menjamin stabilitas.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah: mampukah Bungie bertahan dengan hanya separuh tenaga kerja? Tanpa tim pengembang inti Destiny, pembaruan konten rutin terancam terhenti. Sementara itu, Marathon yang masih dalam tahap pengembangan awal mungkin mengalami penundaan signifikan. Apakah Sony akan turun tangan lebih jauh, atau membiarkan Bungie berjuang sendiri? Jawabannya akan menentukan nasib salah satu studio game paling ikonik di era modern.



