Panda Bond RI Akhirnya Terbit Akhir Juli, Dana Besar China Antre Jadi Investor
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah memundurkan jadwal penerbitan Panda Bond ke akhir Juli 2026 untuk memberi ruang lebih bagi investor China yang baru mengetahui instrumen ini.
- Dua raksasa keuangan China, CIC dan China EximBank, telah menyatakan minat menjadi pembeli dan bahkan bersedia menjadi underwriter obligasi berdenominasi yuan tersebut.
- Penundaan penerbitan menunjukkan strategi pemerintah mengoptimalkan penyerapan surat utang di tengah tingginya minat investor asing terhadap pasar obligasi Indonesia.

Pemerintah Indonesia akhirnya memastikan penerbitan perdana surat utang berdenominasi yuan China, Panda Bond, akan dilakukan pada akhir Juli 2026. Langkah ini diambil setelah sebelumnya ditargetkan rilis pada Juni, namun mundur karena pemerintah ingin memaksimalkan partisipasi investor dari Negeri Tirai Bambu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa penundaan tersebut justru menjadi celah strategis untuk memperluas basis investor. "Akhir Juli kita keluarkan Panda Bond agar bisa diserap sebanyak mungkin," ujarnya di Jakarta, Jumat (26/6/2026). Keputusan ini diambil setelah banyak investor China baru mengetahui rencana penerbitan obligasi tersebut.
Dana-dana besar China seperti The China Investment Corporation (CIC) dan Export-Import Bank of China (China EximBank) telah menyatakan kesiapan untuk membeli. Bahkan, menurut Purbaya, beberapa di antaranya bersedia menjadi underwriter. "Ingin sekian triliun dolar, bilang saya ikut jadi underwriter, ya saya izinkan mereka jadi underwriter," katanya dengan nada optimistis.
Bagi Indonesia, penerbitan Panda Bond membuka akses langsung ke pasar modal China yang likuid. Ini juga menjadi sinyal kepercayaan investor China terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Dengan suku bunga yuan yang relatif stabil, obligasi ini bisa menjadi alternatif menarik bagi investor yang ingin mengurangi eksposur dolar AS.
Namun, penundaan dari jadwal awal juga mengindikasikan adanya tantangan dalam sosialisasi instrumen baru ini. Pemerintah perlu memastikan bahwa mekanisme penerbitan dan regulasi terkait sudah dipahami calon investor. Ke depannya, kesuksesan penjualan Panda Bond akan menjadi tolok ukur sejauh mana Indonesia mampu menggaet modal dari China, yang selama ini lebih banyak mengalir ke sektor komoditas dan infrastruktur.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah minat investor China ini akan bertahan dalam jangka panjang, atau hanya sekadar euforia awal? Jika penyerapan perdana berjalan lancar, bukan tidak mungkin Indonesia akan menerbitkan Panda Bond secara reguler, memperkuat hubungan keuangan bilateral yang selama ini didominasi perdagangan dan investasi langsung.



