Turki Pulang dengan Kepala Tegak Usai Kalahkan AS di Laga Pamungkas Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Turki mengakhiri partisipasi Piala Dunia 2026 dengan kemenangan dramatis 3-2 atas tuan rumah Amerika Serikat di Los Angeles.
- Pelatih Vincenzo Montella memuji mentalitas pemain yang tetap tampil maksimal meski sudah tersingkir dan bermain di hadapan publik lawan.
- Montella berharap Turki tidak perlu menunggu 24 tahun lagi untuk kembali ke Piala Dunia, menegaskan optimisme untuk masa depan.

Turki pulang dengan kepala tegak setelah menutup petualangan mereka di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan dramatis 3-2 atas tuan rumah Amerika Serikat di Los Angeles, Kamis (25/6) waktu setempat. Gol penentu di menit akhir memastikan skuat asuhan Vincenzo Montella meraih kemenangan perdananya di turnamen, meski sudah dipastikan tersingkir di babak grup.
Montella memberikan apresiasi tinggi kepada para pemain yang mampu menunjukkan kualitas dan karakter di tengah tekanan psikologis akibat eliminasi dini. Bermain di hadapan mayoritas pendukung AS, Turki tidak gentar dan justru tampil agresif. “Kami bisa pulang dengan kepala tegak. Sepak bola memang menyakitkan, tapi saya terharu di akhir pertandingan. Laga hari ini jauh lebih berarti dari seribu kemenangan,” ujar Montella dalam konferensi pers usai laga.
Pelatih asal Italia itu menegaskan bahwa timnya telah menciptakan cukup banyak peluang sepanjang turnamen, namun kurang klinis dalam penyelesaian akhir. Ia menolak menyalahkan individu pemain atas peluang yang terbuang. Montella juga menyebut keberuntungan tidak berpihak pada Turki di dua laga sebelumnya, dan menilai hasil imbang di salah satu pertandingan bisa mengubah nasib mereka. “Sepak bola tidak selalu adil,” katanya.
Bagi Turki, partisipasi di Piala Dunia 2026 merupakan yang pertama sejak 2002, saat mereka finis di posisi ketiga. Montella berharap jeda kali ini tidak selama sebelumnya. “Semoga kami bisa tampil lebih baik, bukan dalam 24 tahun lagi, tapi lebih cepat dari itu,” ucapnya penuh optimisme. Perayaan pemain setelah peluit akhir, menurut Montella, mencerminkan kebanggaan nasional yang kuat dan menjadi modal berharga untuk regenerasi tim.
Kemenangan ini setidaknya menjadi penebus atas kegagalan di dua laga sebelumnya. Meski tersingkir, performa Turki melawan AS menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan tim-tim besar. Montella menekankan bahwa timnya telah belajar banyak dari turnamen ini dan akan membawa pengalaman tersebut untuk membangun skuat yang lebih kompetitif di masa depan.
Bagi Indonesia, perjalanan Turki di Piala Dunia 2026 bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya mentalitas dan kebanggaan nasional. Timnas Indonesia yang tengah berjuang meningkatkan peringkat FIFA dan mengejar mimpi tampil di Piala Dunia dapat mencontoh kegigihan Turki yang tidak menyerah meski sudah tersingkir. Kemenangan atas tuan rumah AS juga membuktikan bahwa dengan persiapan matang dan semangat juang, tim non-unggulan mampu memberikan kejutan.
Ke depan, Turki dihadapkan pada tugas besar untuk mempertahankan momentum positif ini. Montella harus segera membangun kembali tim dengan pemain-pemain muda berbakat, sambil tetap mempertahankan identitas permainan yang telah ditunjukkan. Pertanyaannya, bisakah Turki mempersingkat waktu tunggu mereka untuk kembali ke panggung Piala Dunia?



