Dear You Versi Teochew Dapat Tambahan 50 Layar, Respons Otoritas Atas Minat Publik
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Singapura menyetujui 50 pemutaran tambahan film Dear You dalam bahasa Teochew setelah tingginya permintaan penonton.
- Film yang sukses di China ini sebelumnya hanya diputar dalam versi Mandarin di bioskop komersial, memicu diskusi tentang akses film dialek.
- Kebijakan ini menandai kelonggaran regulasi konten dialek di Singapura, dengan potensi dampak pada distribusi film serupa di Asia Tenggara.

Otoritas Singapura memberikan lampu hijau untuk 50 pemutaran tambahan film Dear You dalam bahasa Teochew, menyusul antusiasme publik yang melonjak terhadap tayangan berbahasa daerah. Keputusan ini diumumkan Kamis (25/6) oleh Infocomm Media Development Authority (IMDA) dan Kementerian Digital Development dan Informasi (MDDI) sebagai respons atas tingginya minat terhadap film yang telah mendominasi box office China tersebut.
Golden Village, jaringan bioskop utama di Singapura, akan menayangkan 40 dari 50 pemutaran tambahan itu mulai 3 hingga 26 Juli di lima lokasi: VivoCity, Yishun, Bishan, Tampines, dan Jurong Point. Tiket mulai dijual pada 29 Juni pukul 15.00 melalui loket dan kanal daring. Sepuluh pemutaran sisanya akan digelar bekerja sama dengan organisasi akar rumput dan komunitas setempat.
Penambahan ini melengkapi 22 pemutaran Teochew yang telah disetujui sebelumnya. Distributor Clover Films masih menyusun jadwal detail yang akan diumumkan terpisah. Dari persetujuan awal, 18 pemutaran diberikan kepada Clover Films dan empat lainnya melalui aplikasi terpisah oleh SPH Media Limited.
Langkah ini muncul di tengah perdebatan publik tentang akses terhadap film berbahasa daerah di Singapura. Sejak dirilis di bioskop Singapura pada 18 Juni, Dear You hanya tersedia dalam versi Mandarin untuk tayangan komersial. Versi asli Teochew hanya diputar di layar terbatas, memicu desakan agar penonton diberi lebih banyak kesempatan menikmati film dalam bahasa ibu. MDDI sebelumnya menyatakan akan mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel terhadap permohonan pemutaran film dialek di masa depan.
Dalam pernyataan bersama, IMDA dan MDDI menegaskan bahwa Mandarin tetap berperan sebagai bahasa pemersatu di antara warga Tionghoa Singapura, namun dialek merupakan bagian berharga dari warisan budaya dan identitas. “Kami terdorong oleh meningkatnya minat terhadap dialek, termasuk di kalangan generasi muda Singapura, dan berharap pemutaran tambahan ini memungkinkan lebih banyak penonton menikmati film ini,” ujar mereka.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat kekayaan bahasa daerah yang dimiliki. Kebijakan Singapura yang mulai melonggarkan regulasi konten dialek bisa menjadi preseden bagi negara-negara Asia Tenggara lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola distribusi film berbahasa daerah. Di dalam negeri, film berbahasa daerah seperti那些 dari Jawa atau Sumatera kerap menghadapi tantangan serupa dalam hal akses dan sensor.
Dear You, yang disutradarai dan ditulis bersama oleh Lan Hongchun, mengikuti dua alur waktu yang saling terkait: seorang cucu yang mencari kakeknya yang hilang di Thailand modern, dan seorang pria yang baru menikah yang meninggalkan China menuju Asia Tenggara pada 1940-an untuk mencari pekerjaan. Kesuksesan film ini di China—dengan pendapatan lebih dari 1,7 miliar yuan—menunjukkan daya tarik cerita lintas generasi dan budaya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah kelonggaran ini akan menjadi awal dari kebijakan yang lebih longgar terhadap konten dialek di Singapura, dan apakah negara-negara tetangga akan mengikuti jejak serupa. Dengan minat yang terus tumbuh, terutama di kalangan muda, masa depan film berbahasa daerah di kawasan ini tampak semakin cerah.



