Transaksi Tanpa Dolar RI Tembus Rp575 Triliun, India Segera Gabung
Baca dalam 60 detik
- Nilai transaksi local currency settlement (LCT) Indonesia dengan enam negara mitra mencapai Rp575,72 triliun hingga Mei 2026, melampaui capaian dua tahun sebelumnya.
- China mendominasi dengan pangsa 85% dari total transaksi, sementara India tengah menjajaki kerja sama serupa untuk memperluas jaringan dedolarisasi.
- Pertumbuhan LCT mencerminkan upaya Bank Indonesia mengurangi ketergantungan pada dolar AS, namun jumlah pelaku usaha masih fluktuatif.

Bank Indonesia (BI) mencatat lonjakan signifikan transaksi tanpa dolar Amerika Serikat melalui skema local currency settlement (LCT) yang mencapai US$ 32,89 miliar atau setara Rp575,72 triliun dalam lima bulan pertama 2026. Angka ini sudah melampaui total realisasi sepanjang tahun 2024 dan 2025, menandakan akselerasi dedolarisasi perdagangan Indonesia.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan antusiasme negara mitra terhadap skema ini sangat tinggi. "Reaksi terhadap LCT itu luar biasa," ujarnya dalam acara Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Rabu (24/6/2026). Dari total transaksi, China masih menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$ 27,93 miliar, disusul Jepang (US$ 2,67 miliar), Malaysia (US$ 1,48 miliar), Thailand (US$ 505 juta), Uni Emirat Arab (US$ 209,7 juta), dan Korea Selatan (US$ 98,4 juta).
Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan ini terbilang eksponensial. Sepanjang 2024, transaksi LCT hanya mencapai US$ 12,49 miliar, lalu naik menjadi US$ 25,71 miliar pada 2025. Artinya, dalam lima bulan pertama 2026 saja, nilai transaksi sudah 2,6 kali lipat dari capaian 2024 dan 1,3 kali lipat dari total 2025. Namun, jumlah pelaku usaha yang memanfaatkan LCT justru menurun: tercatat 80.188 pelaku hingga Mei 2026, lebih rendah dari 116.645 pelaku sepanjang 2025. Ini mengindikasikan bahwa transaksi per pelaku semakin besar, atau ada konsolidasi di sisi pengguna.
Dari sisi pelaku, China kembali mendominasi dengan 28.576 entitas, disusul Malaysia (18.455), Korea Selatan (15.443), Jepang (12.471), Thailand (3.260), dan Uni Emirat Arab (1.983). Tingginya partisipasi China sejalan dengan posisinya sebagai mitra dagang utama Indonesia. Bagi pelaku usaha di Indonesia, LCT memberikan keuntungan berupa pengurangan biaya konversi valuta asing dan risiko fluktuasi kurs dolar AS. Hal ini sangat relevan di tengah ketidakpastian global dan kebijakan suku bunga tinggi The Fed.
Kabar baik lainnya, India dikabarkan segera bergabung dalam skema LCT. Destry menyebutkan bahwa negosiasi sedang berlangsung menuju penandatanganan nota kesepahaman (MoU). "India cepat untuk membuat LCT bersama, karena sebenarnya kita sudah in the process. Namun, membuat MoU tidak bisa seketika karena harus memikirkan implementasi dan aturan masing-masing negara," jelasnya. Jika terealisasi, India akan menjadi mitra ketujuh dan akan memperkuat posisi Indonesia dalam mengurangi dominasi dolar AS di kawasan Asia.
Bagi Indonesia, perluasan LCT bukan sekadar soal efisiensi transaksi, melainkan juga langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan moneter. Dengan semakin banyak negara yang mau bertransaksi menggunakan mata uang lokal, ketergantungan pada dolar AS perlahan terkikis. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan infrastruktur dan regulasi di masing-masing negara mitra dapat mendukung implementasi yang lancar. Pertanyaannya, akankah India menjadi game changer berikutnya dalam peta dedolarisasi Indonesia?



