Harga Minyak Merosot di Tengah Kembalinya Pengiriman Selat Hormuz, Meski Ada Serangan Kapal
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI turun tipis pada Jumat pagi setelah sempat melonjak akibat serangan proyektil di dekat Oman, namun kekhawatiran pasokan mereda karena kapal tanker mulai meninggalkan Selat Hormuz.
- Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz pekan ini mencapai level tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran pada Februari, meskipun lalu lintas masih jauh di bawah rata-rata harian sebelum perang.
- Gempa bumi di Venezuela menambah ketidakpastian pasokan, dengan kekhawatiran produksi minyak negara itu sulit dipertahankan akibat pemadaman listrik.

Harga minyak mentah dunia kembali tertekan pada perdagangan Jumat pagi (26/6), setelah sempat melonjak lebih dari dua persen sehari sebelumnya akibat insiden serangan proyektil terhadap sebuah kapal kargo di dekat Oman. Meski insiden itu sempat memicu kekhawatiran keamanan di Selat Hormuz, arus pengiriman minyak justru menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan semakin banyaknya kapal tanker yang berhasil meninggalkan jalur perairan strategis tersebut.
Brent crude futures turun 19 sen atau 0,25 persen menjadi 75,07 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 13 sen atau 0,18 persen ke level 71,79 dolar AS. Penurunan ini terjadi meskipun kedua kontrak acuan sempat mencatat kenaikan signifikan pada Kamis setelah sebuah kapal kargo dihantam proyektil tak dikenal di dekat Oman, yang mendorong Badan Pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menangguhkan skema evakuasi sukarela.
Dua pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan kepada Reuters bahwa Iran diduga menembaki kapal kargo tersebut saat mencoba melintasi selat. Pihak berwenang Iran menyatakan bahwa keamanan kapal yang melintas di luar rute resmi Hormuz tidak dapat dijamin. Pernyataan ini menambah ketegangan di kawasan yang sudah rentan, namun pasar tampaknya lebih fokus pada data pengiriman yang menunjukkan peningkatan volume.
Data pada Kamis menunjukkan bahwa pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz pekan ini naik ke level tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran dimulai pada Februari, setelah kesepakatan gencatan senjata membuka kembali jalur air tersebut. Meski demikian, lalu lintas secara keseluruhan masih merupakan sebagian kecil dari rata-rata harian 125 kapal yang melintas sebelum konflik pecah pada 28 Februari. Analis IG, Tony Sycamore, menilai bahwa dengan premi risiko geopolitik yang kembali merayap masuk ke dalam harga, pasar akan mengamati dengan saksama apakah lalu lintas kapal tanker akan berlanjut atau justru terhambat oleh insiden terbaru.
Di sisi lain, gempa bumi yang mengguncang Venezuela pada Kamis juga menambah kekhawatiran pasokan. Meskipun penilaian awal terhadap infrastruktur minyak, gas, dan kilang di negara itu menunjukkan kerusakan terbatas—karena sebagian besar wilayah produksi terbesar, kilang, pipa, dan terminal berada jauh dari daerah yang paling parah terkena dampak—kekurangan pasokan listrik justru menjadi ancaman serius. Sumber-sumber di lapangan menyebutkan bahwa tanpa listrik yang memadai, produksi minyak Venezuela sulit dipertahankan di level sebelum gempa yang mencapai hampir 1,2 juta barel per hari.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak global ini memiliki implikasi langsung terhadap anggaran subsidi energi dan neraca perdagangan. Sebagai negara pengimpor minyak netto, setiap penurunan harga minyak mentah dapat meringankan beban subsidi BBM dan listrik, namun volatilitas yang tinggi akibat ketegangan geopolitik tetap menjadi risiko yang harus diantisipasi. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan di Selat Hormuz dan Venezuela, mengingat kedua kawasan tersebut mempengaruhi pasokan minyak global dan stabilitas harga.
Ke depan, pertanyaan kunci yang menggantung adalah apakah pemulihan pengiriman di Selat Hormuz dapat bertahan di tengah ketegangan yang masih membara, dan apakah Venezuela mampu mempertahankan produksinya tanpa pasokan listrik yang andal. Jawaban atas kedua pertanyaan ini akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan mendatang, sekaligus menguji ketahanan ekonomi negara-negara pengimpor seperti Indonesia.



