Saham Teknologi Terkoreksi, Bursa Asia-Pasifik Dibuka Lesu
Baca dalam 60 detik
- Indeks Kospi dan Nikkei melemah pada awal perdagangan Jumat, dipimpin oleh aksi jual saham teknologi global.
- Apple dan Microsoft anjlok setelah mengumumkan kenaikan harga produk, memicu kekhawatiran inflasi biaya komponen.
- Rotasi ke sektor defensif seperti kesehatan dan keuangan menopang Dow Jones, namun sentimen risiko tetap rapuh.

Pasar Asia-Pasifik memulai perdagangan Jumat (26/6/2026) dengan tekanan, setelah aksi jual saham teknologi di Wall Street merembet ke kawasan. Indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan dengan turun 1,44%, sementara Nikkei 225 Jepang terkoreksi 0,88%. Di Australia, S&P/ASX 200 justru mencatat kenaikan tipis 0,17%, menunjukkan divergensi sentimen di kawasan.
Pelemahan ini tidak lepas dari aksi jual besar-besaran pada saham teknologi di bursa Amerika Serikat pada Kamis (25/6). Nasdaq Composite ambles 0,46% dan mencatat penurunan empat hari beruntun, pertama kalinya sejak Februari. Saham Apple anjlok 6% setelah mengumumkan kenaikan harga iPad dan MacBook dengan alasan lonjakan permintaan memori dan penyimpanan. Microsoft juga terpangkas lebih dari 3% setelah menaikkan harga konsol Xbox karena biaya komponen yang melonjak. Alphabet dan Meta Platforms ikut tertekan, memperkuat sinyal bahwa sektor teknologi sedang menghadapi tekanan biaya yang semakin akut.
Di tengah pelemahan saham teknologi, terjadi rotasi modal ke sektor yang lebih defensif. Indeks Dow Jones justru naik 71,72 poin atau 0,14%, ditopang oleh saham kesehatan, keuangan, dan industri. Pola ini mengindikasikan investor mulai menghindari risiko dan beralih ke sektor yang lebih tahan terhadap gejolak suku bunga dan inflasi. Kontrak berjangka S&P 500 diperdagangkan mendekati level datar, sementara Dow futures naik tipis 45 poin.
Bagi investor Indonesia, pergerakan bursa Asia ini menjadi sinyal waspada. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terimbuh sentimen negatif dari eksternal, terutama jika aksi jual saham teknologi global berlanjut. Namun, rotasi ke sektor defensif bisa menjadi peluang bagi emiten-emiten di sektor kesehatan dan barang konsumsi di dalam negeri. Analis memperkirakan pasar sedang menguji keyakinan investor, terutama di sektor semikonduktor dan chip memori yang menjadi tulang punggung rantai pasok teknologi global.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi dan kebijakan suku bunga bank sentral, termasuk The Fed. Jika tekanan biaya komponen terus meningkat, bukan tidak mungkin koreksi saham teknologi masih akan berlanjut. Pertanyaannya, akankah rotasi ke sektor defensif mampu bertahan atau justru menjadi awal koreksi yang lebih dalam? Investor Indonesia perlu mencermati pergerakan bursa global dan menyesuaikan portofolio dengan bijak.



