Banjir Bandang Mengancam Taiwan: 200 Jiwa Dievakuasi Akibat Danau Bendung
Baca dalam 60 detik
- Topan Mekkhala memicu hujan deras di Taiwan, menyebabkan banjir lokal di Taipei dan selatan pulau.
- Lebih dari 200 warga di Hualien dievakuasi karena ancaman jebolnya danau bendung di pegunungan.
- Peristiwa ini mengingatkan pada tragedi 2024 di lokasi serupa yang menewaskan 19 orang.

Hujan deras yang dibawa oleh Topan Mekkhala memicu banjir di sejumlah wilayah Taiwan, termasuk Taipei dan bagian selatan pulau. Pemerintah setempat memerintahkan evakuasi lebih dari 200 warga di pesisir timur menyusul kekhawatiran jebolnya danau bendung di pegunungan.
Meskipun Topan Mekkhala tidak mendarat langsung di Taiwan—badai ini bergerak menuju Jepang—sirkulasi luarnya membawa curah hujan tinggi ke Pulau Formosa. Wilayah Kaohsiung dan Pingtung di selatan menjadi yang paling terdampak. Pemerintah Pingtung menutup semua kantor dan sekolah pada Selasa sore, sementara Kaohsiung mengambil langkah serupa untuk dua distrik pegunungan. Di kawasan Neihu, pinggiran Taipei, air banjir nyaris menenggelamkan mobil-mobil yang terparkir.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa. Namun, di Kabupaten Hualien, timur Taiwan, otoritas mengevakuasi lebih dari 200 orang dari dua kecamatan yang berada di hilir danau bendung. Danau tersebut terbentuk akibat longsor yang menyumbat aliran sungai di lembah pegunungan, menahan volume air yang terus bertambah karena hujan.
Fenomena danau bendung bukan hal baru di Taiwan yang bergunung-gunung. Terbentuk ketika material longsor atau batuan menyumbat sungai, danau ini menyimpan air dalam jumlah besar. Jika tekanan air melebihi daya tahan bendungan alami, jebolnya bisa memicu banjir bandang dan tanah longsor. Pada 2024, peristiwa serupa di Hualien—saat Super Topan Ragasa—menewaskan 19 orang setelah dinding lumpur dan air menerjang pemukiman.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko hidrometeorologi yang juga tinggi di Nusantara. Dengan topografi serupa—pegunungan, sungai-sungai curam, dan curah hujan tinggi—ancaman danau bendung juga mengintai daerah seperti Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia telah beberapa kali menangani situasi serupa, misalnya di Garut dan Cianjur. Namun, kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini masih perlu ditingkatkan.
Meteorologi Taiwan memperkirakan hujan akan terus mengguyur setidaknya selama sepekan ke depan, meski intensitasnya berangsur menurun. Pertanyaan besarnya: apakah danau bendung di Hualien akan bertahan, atau akankah sejarah kelam 2024 terulang?



