Stellantis dan Nissan Berebut Aset Marelli: Strategi Penyelamatan di Tengah Perang Dagang
Baca dalam 60 detik
- Produsen otomotif global Stellantis dan Nissan dikabarkan tengah merundingkan akuisisi sebagian aset pemasok komponen Jepang, Marelli Holdings, yang terjerat kebangkrutan.
- Langkah ini merupakan bagian dari upaya penyelamatan Marelli yang terdampak perang dagang global dan tarif impor, yang menggerus likuiditas perusahaan milik KKR tersebut.
- Akuisisi aset strategis seperti suspensi dan kokpit kendaraan dinilai dapat memperkuat rantai pasok kedua raksasa otomotif di tengah tekanan industri.

Dua raksasa otomotif global, Stellantis dan Nissan Motor, dikabarkan tengah menjajaki akuisisi sejumlah aset pemasok komponen asal Jepang, Marelli Holdings, yang saat ini berada dalam tekanan finansial akibat perang dagang dan kebijakan tarif. Langkah ini tidak hanya menjadi strategi ekspansi, tetapi juga upaya penyelamatan terhadap Marelli yang telah mengajukan perlindungan kebangkrutan di Amerika Serikat.
Menurut laporan Bloomberg yang mengutip sumber terpercaya, Stellantis fokus pada pengambilalihan bisnis suspensi Marelli yang berlokasi di Italia dan beberapa negara lain. Sementara itu, Nissan mengincar aset kokpit kendaraan (cockpit assets) yang berada di Jepang. Kedua perusahaan tersebut terlibat dalam negosiasi yang lebih luas yang bertujuan untuk menyelamatkan pemasok komponen otomotif yang tengah kesulitan.
Marelli, yang didirikan pada tahun 2019, merupakan pemasok utama bagi Nissan. Kondisi keuangan Marelli yang memburuk menjadi perhatian serius, terutama karena Nissan sendiri tengah berjuang untuk melakukan pembenahan internal. Pada bulan Juni lalu, Marelli mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 di Amerika Serikat setelah berbulan-bulan mengalami ketidakpastian dalam negosiasi dengan para krediturnya.
Dalam dokumen pengajuan kebangkrutannya, Marelli menyebutkan bahwa perang dagang global telah mempengaruhi posisi likuiditas perusahaan secara signifikan. Hal ini disebabkan oleh model bisnis Marelli yang sangat bergantung pada aktivitas impor dan ekspor, serta dampak tarif yang dikenakan pada industri otomotif. Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana ketegangan geopolitik dapat merembet ke sektor riil dan mengancam kelangsungan pemasok komponen kendaraan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Meskipun Marelli tidak memiliki pabrik langsung di Indonesia, rantai pasok otomotif global yang terintegrasi membuat setiap gangguan di tingkat internasional berpotensi mempengaruhi ketersediaan komponen dan harga kendaraan di dalam negeri. Industri otomotif Indonesia, yang sebagian besar bergantung pada impor komponen dari Jepang dan negara lain, perlu mencermati dinamika ini. Jika akuisisi aset Marelli oleh Stellantis dan Nissan berhasil, hal itu dapat memperkuat posisi tawar kedua perusahaan dalam rantai pasok global, namun juga berpotensi menimbulkan konsolidasi yang mengurangi jumlah pemasok independen.
Stellantis dan Marelli menolak memberikan komentar, sementara Nissan belum menanggapi permintaan konfirmasi dari Reuters. Negosiasi yang masih berlangsung ini menyisakan pertanyaan besar: akankah langkah penyelamatan ini cukup untuk menyelamatkan Marelli dari kebangkrutan total, atau justru menjadi awal dari restrukturisasi besar-besaran di industri komponen otomotif global? Yang jelas, keputusan yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi preseden bagi bagaimana perusahaan otomotif menghadapi tekanan perang dagang dan perubahan rantai pasok.



