Ratusan Calon Mahasiswa PTN di Jateng Mundur: Isu Biaya atau Jurusan Tak Sesuai?
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 60 calon mahasiswa SNBP dan 347 calon SNBT mundur dari Universitas Tidar, sementara 70 calon SNBP mundur dari Unsoed.
- Isu 60.000 pendaftar SNBP mundur dibantah panitia SNPMB; angka itu mencakup seluruh jalur dan tahun sebelumnya.
- Kekhawatiran anggota DPR soal akses KIP Kuliah dan ketidaksesuaian jurusan menjadi sorotan utama di balik fenomena ini.

Fenomena calon mahasiswa baru yang memilih mundur dari perguruan tinggi negeri (PTN) di Jawa Tengah mencuat setelah data dari Universitas Tidar (Untidar) dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menunjukkan ratusan peserta jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tidak melakukan registrasi ulang. Meski secara persentase terbilang kecil, isu ini memicu pertanyaan di Komisi X DPR tentang penyebab di balik keputusan tersebut—apakah karena faktor biaya, ketidakcocokan jurusan, atau pilihan kampus lain yang lebih sesuai.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Untidar, Prof Suyitno, mengungkapkan bahwa dari 936 calon mahasiswa jalur SNBP yang diterima, hanya 60 orang yang tidak mendaftar ulang—setara 6,4 persen. Sementara itu, pada jalur SNBT, dari 2.418 peserta yang dinyatakan lolos, sebanyak 347 orang memilih mundur, atau sekitar 14,4 persen. "Jumlah itu kecil dibanding total yang diterima," ujarnya. Pihak kampus mengaku tidak mengetahui alasan spesifik para calon mahasiswa tersebut, karena mekanisme mundur hanya memerlukan ketidakhadiran saat registrasi tanpa perlu memberikan penjelasan.
Di Unsoed, Kepala Bagian Akademik Eko Sumantooed melaporkan bahwa dari 3.176 calon mahasiswa SNBP yang diterima, sebanyak 3.106 telah menyelesaikan registrasi. Artinya, hanya 70 orang yang tidak melanjutkan. "Angka registrasi mencapai 97,7 persen, tergolong baik," kata Eko. Unsoed tidak menjatuhkan sanksi kepada sekolah asal peserta yang mundur, melainkan hanya melaporkan data tersebut ke panitia pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB).
Isu yang lebih besar muncul ketika anggota Komisi X DPR Sofyan Tan menyoroti narasi yang beredar tentang 60.000 calon mahasiswa SNBP yang tidak mendaftar ulang. Ia menduga angka itu mungkin mencerminkan masalah sistemik: pilihan jurusan yang salah, diterima di PTN lain yang lebih diminati, atau kendala biaya karena tidak mendapat KIP Kuliah. "Yang paling dikhawatirkan adalah mereka yang lolos tapi tidak bisa dibiayai, sehingga tidak melanjutkan. Ini harus diselidiki lebih lanjut," ujar Sofyan dalam rapat dengan Kemendiktisaintek.
Namun, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof Dr Ir Eduart Wolok, membantah klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa angka 60.000 merujuk pada total peserta yang tidak mendaftar ulang di semua jalur (SNBP, SNBT, dan mandiri) pada SNPMB 2025—bukan khusus SNBP 2026. "Untuk SNBP sendiri, persentase daftar ulang mencapai 92 persen dari yang diterima," jelas Eduart. Dengan demikian, fenomena mundurnya calon mahasiswa di Untidar dan Unsoed tidak bisa langsung dikaitkan dengan isu nasional tersebut.
Kekosongan kursi akibat mundurnya calon mahasiswa di Untidar akan dialokasikan ulang: kuota SNBP yang tidak terisi diberikan ke jalur SNBT, sedangkan sisa SNBT dialihkan ke jalur mandiri. Jalur mandiri Untidar sendiri mencakup tes tulis, UTBK, prestasi, dan kerja sama, dengan pengumuman dijadwalkan pada 30 Juni mendatang. Langkah serupa juga diterapkan di Unsoed, meski dengan skala yang lebih kecil.
Fenomena ini membuka pertanyaan lebih dalam tentang efektivitas sistem seleksi nasional dan kesesuaian antara minat calon mahasiswa dengan jurusan yang ditawarkan. Apakah angka mundur yang relatif rendah ini hanya cerminan dari ketidakcocokan individu, atau justru sinyal adanya kesenjangan informasi dan akses pembiayaan yang perlu dibenahi? Dengan semakin ketatnya persaingan masuk PTN, transparansi data dan pendampingan bagi calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu menjadi kunci untuk memastikan setiap kursi perguruan tinggi negeri benar-benar terisi oleh mereka yang berhak dan siap menjalaninya.



