Pria Bersenjata Pisau di Clementi Dilucuti Warga, Polisi Singapura Selidiki Dugaan Luka Diri
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria 34 tahun di Singapura dilaporkan membawa pisau dan melukai dirinya sendiri sebelum seorang warga bertindak melucutinya.
- Insiden di Clementi Avenue 3 ini menyoroti peran warga sipil dalam meredam situasi berbahaya sebelum aparat tiba.
- Polisi Singapura masih mendalami motif di balik kejadian tersebut, sementara korban dan pelucut dirawat di rumah sakit.

Seorang pria berusia 34 tahun terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah melukai dirinya sendiri dengan pisau di kawasan Clementi, Singapura, Senin (10/8/2026). Insiden yang terjadi sekitar pukul 12.20 waktu setempat di Blok 441B Clementi Avenue 3 itu berakhir setelah seorang warga sipil berani merebut senjata tajam dari tangan pelaku sebelum polisi tiba di lokasi.
Kepolisian Singapura membenarkan bahwa mereka menerima laporan bantuan sekitar tengah hari. Saat petugas tiba, pria tersebut sudah dalam kondisi sadar namun mengalami luka yang diduga akibat aksi melukai diri sendiri. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif. Sementara itu, seorang pria berusia 56 tahun yang bertindak sebagai penolong tidak mengalami cedera, tetapi tetap dibawa ke fasilitas kesehatan sebagai langkah antisipasi.
Menurut keterangan saksi mata yang dihimpun media setempat, pelaku sempat menusuk dirinya berulang kali sebelum akhirnya seorang anggota masyarakat menerjang dan merebut pisau darinya. Foto yang beredar memperlihatkan kedua pria tersebut bergumul di tanah, dengan pisau berlumuran darah tergeletak di dekat mereka. Petugas kebersihan pun terlihat membersihkan area tersebut sekitar pukul 13.00, dan beberapa saksi mengaku ada warga yang mencoba memberikan pertolongan pertama pada korban sebelum petugas medis tiba.
Dinas Pertahanan Sipil Singapura (SCDF) mengonfirmasi bahwa dua orang masing-masing dibawa ke Rumah Sakit Universitas Nasional dan Rumah Sakit Umum Ng Teng Fong. Hingga berita ini diturunkan, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif di balik kejadian tersebut. Belum ada pernyataan resmi mengenai kondisi terkini kedua pria yang dirawat.
Insiden ini memicu diskusi tentang pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat, terutama yang melibatkan gangguan mental. Psikolog klinis di Singapura menilai bahwa tindakan warga yang cepat dan berani dapat menjadi penyelamat nyawa, namun mereka juga mengingatkan agar masyarakat tidak gegabah dan selalu mengutamakan keselamatan diri sendiri. Di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi di ruang publik, dan aparat setempat sering mengimbau warga untuk segera melapor kepada pihak berwenang daripada bertindak sendiri.
Kejadian di Clementi ini juga menyoroti perlunya peningkatan layanan kesehatan mental dan deteksi dini bagi individu yang berisiko. Di tengah tekanan hidup perkotaan yang semakin kompleks, akses terhadap konseling dan dukungan psikologis menjadi semakin krusial. Singapura sendiri memiliki berbagai saluran bantuan, seperti Singapore Association for Mental Health, yang dapat dihubungi siapa pun yang membutuhkan pertolongan.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah insiden ini akan mendorong otoritas setempat untuk memperketat pengawasan terhadap peredaran pisau di tempat umum atau meningkatkan pelatihan pertolongan pertama bagi warga sipil. Sementara itu, publik menanti hasil investigasi polisi untuk mengungkap apa yang sebenarnya mendorong pria tersebut mengambil langkah nekat.



