Brooklyn Beckham Masak Pasta dengan Air Laut, Netizen: Rage Bait atau Kecerobohan?
Baca dalam 60 detik
- Video memasak pasta dengan air laut oleh Brooklyn Beckham memicu perdebatan sengit di TikTok, dengan lebih dari 1,4 juta penayangan.
- Sebagian warganet mengkhawatirkan risiko kesehatan dari polutan dan bakteri di air laut, sementara yang lain menuding aksi tersebut sebagai konten provokatif untuk memancing reaksi.
- Insiden ini menyoroti fenomena 'rage bait' di media sosial dan bagaimana figur publik kerap menjadi sasaran kritik, sekaligus membuka diskusi tentang etika konten dan keselamatan pangan.

Brooklyn Beckham, putra sulung David dan Victoria Beckham, kembali menjadi sorotan warganet setelah mengunggah video memasak pasta menggunakan air laut. Aksi yang diunggah di akun TikTok pribadinya itu menuai reaksi beragam, mulai dari kekhawatiran akan risiko kesehatan hingga tuduhan sengaja membuat konten provokatif atau yang dikenal sebagai 'rage bait'.
Dalam video yang diunggah pada pekan ini, pria berusia 27 tahun itu terlihat berdiri di sebuah dermaga, mencelupkan panci besar ke laut untuk mengambil air yang akan digunakan sebagai kuah pasta. Video dengan keterangan 'Tomato pasta' itu langsung memicu gelombang komentar, dengan lebih dari 1,4 juta penayangan dalam hitungan hari.
Sejumlah warganet mengungkapkan kekhawatiran serius tentang keamanan memasak dengan air laut. Mereka menilai air laut tidak hanya mengandung garam, tetapi juga berbagai polutan seperti logam berat, bahan kimia dari limbah kapal, serta mikroorganisme yang dapat membahayakan kesehatan. Seorang pengguna menulis, "Merebus air laut tidak akan menghilangkan polutan kimia, logam berat, dan racun di dalamnya." Kekhawatiran lain datang dari mereka yang mengingatkan bahwa laut kerap menjadi tempat pembuangan limbah manusia, termasuk urin.
Di sisi lain, tidak sedikit yang menilai aksi Brooklyn tersebut sebagai 'rage bait', yaitu strategi membuat konten yang sengaja memancing emosi negatif untuk meningkatkan interaksi. Komentar seperti "Dia cuma cari perhatian" dan "Masa sih ini serius?" membanjiri kolom komentar. Fenomena ini memang marak di media sosial, di mana konten kontroversial kerap digunakan untuk menaikkan engagement, terlepas dari dampak negatifnya.
Menariknya, sebagian warganet justru membela Brooklyn. Mereka menilai kritik yang dilayangkan terlalu berlebihan dan menganggap aksi tersebut sebagai bentuk kreativitas atau sekadar eksperimen. Seorang pengguna menulis, "Dia punya passion di bidang memasak, kenapa harus dibully?" Ada pula yang mengaitkan dengan hubungan Brooklyn dengan keluarganya yang tengah renggang, dengan komentar seperti, "Daripada masak pasta, mending baikan sama keluarga."
Peristiwa ini juga memantik diskusi tentang etika berbagi konten di media sosial, terutama bagi publik figur. Di Indonesia, fenomena serupa kerap terjadi, di mana konten kontroversial dari selebritas atau kreator konten menjadi viral dan memicu perdebatan. Hal ini menunjukkan bahwa batas antara kreativitas, provokasi, dan kecerobohan semakin tipis di era digital.
Dari sudut pandang kesehatan, para ahli menegaskan bahwa air laut tidak aman untuk dikonsumsi atau digunakan dalam memasak tanpa melalui proses desalinasi yang tepat. Kandungan garam yang tinggi dapat merusak ginjal, sementara polutan seperti mikroplastik dan logam berat dapat terakumulasi dalam tubuh. Oleh karena itu, aksi Brooklyn ini tidak hanya menuai kritik dari warganet, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan pangan.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah tren 'rage bait' akan terus menjadi strategi efektif bagi para kreator konten, atau justru akan menuai boikot dari audiens yang semakin kritis. Bagi Brooklyn, mungkin ini saatnya untuk lebih berhati-hati dalam memilih konten, mengingat ia tengah membangun karier di bidang kuliner. Akankah ia belajar dari pengalaman ini, atau justru semakin berani bereksperimen?



