Uji Coba Spektrometer CISS Saat Gerhana Matahari Total: Misi Ilmuwan Italia Membaca Korona Matahari Lebih Cepat
Baca dalam 60 detik
- Instrumen CISS buatan Italia akan diuji dalam gerhana matahari total di Spanyol, menjanjikan pemetaan korona matahari dalam satu jepretan.
- Metode ini mengatasi keterbatasan spektrometer lama yang butuh berjam-jam, membuka peluang pemantauan aktivitas matahari secara real-time.
- Keberhasilan uji coba ini dapat mendorong misi antariksa masa depan dan meningkatkan ketahanan infrastruktur teknologi global, termasuk di Indonesia.

Sebuah instrumen optik yang dirancang para ilmuwan Italia siap menghadapi ujian paling krusial dalam gerhana matahari total yang akan melintasi Eropa pada Rabu (12/8). Alat bernama Circular Slit Spectrometer (CISS) itu dijadwalkan diuji di Observatorium Astrofisika Javalambre, Spanyol, dengan target membuktikan kemampuannya mengurai cahaya matahari menjadi spektrum warna dalam satu kali bidikan โ sebuah lompatan besar dibandingkan teknologi yang ada saat ini.
Gerhana total menciptakan kondisi langka di mana korona, lapisan terluar atmosfer matahari, menjadi lebih terlihat. Fenomena ini memberi kesempatan emas bagi para peneliti untuk mempelajari perilaku matahari yang berdampak langsung pada jaringan komunikasi dan kelistrikan di Bumi. Gangguan pada korona, seperti ledakan massa koronal, dapat memicu badai geomagnetik yang berpotensi melumpuhkan satelit dan sistem transmisi listrik.
Berbeda dengan spektrometer linear konvensional yang memindai korona secara bertahap, CISS menggunakan celah melingkar untuk menangkap spektrum seluruh korona pada jarak tertentu dari pusat matahari dalam satu foto. Prinsip ini dirancang untuk mengatasi kelemahan utama instrumen sebelumnya yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk memetakan korona, sementara wilayah tersebut berubah dalam hitungan menit. "Dengan CISS, kami bisa mendapatkan gambaran utuh dalam sepersekian detik," ujar Federico Landini, peneliti utama dari Observatorium Astrofisika Turin, seperti dikutip Channel News Asia.
Uji coba ini merupakan puncak dari dua setengah tahun kerja keras tim. Namun, tantangan terbesar justru datang dari logistik. Untuk memastikan instrumen tiba dalam kondisi utuh, tim memilih menempuh perjalanan darat dari Padua ke Spanyol menggunakan van, menghindari risiko pembatalan penerbangan yang kerap terjadi di menit-menit terakhir. "Tidak ada ruang untuk hal tak terduga," tegas Paola Zuppella, peneliti senior dari Institute for Photonics and Nanotechnologies di Padua. Koordinasi tim, menurutnya, sama pentingnya dengan cuaca yang mendukung.
Jika uji coba ini berhasil, langkah berikutnya adalah mengaplikasikan prinsip optik CISS pada misi antariksa masa depan untuk mengamati atmosfer matahari. Sebelumnya, instrumen UVCS yang dioperasikan ESA dan NASA di wahana SOHO (1996โ2013) membutuhkan waktu berjam-jam untuk memetakan korona. Dengan teknologi baru ini, pemantauan matahari bisa dilakukan secara real-time, memungkinkan peringatan dini yang lebih akurat terhadap aktivitas matahari ekstrem.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi strategis. Sebagai negara dengan infrastruktur telekomunikasi dan kelistrikan yang terus berkembang, ketahanan terhadap gangguan geomagnetik menjadi perhatian serius. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sendiri telah memiliki program pemantauan aktivitas matahari, dan teknologi seperti CISS dapat menjadi referensi untuk pengembangan instrumen serupa di dalam negeri. "Kolaborasi internasional dalam sains antariksa membuka peluang transfer teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk mitigasi bencana," kata seorang peneliti BRIN yang enggan disebutkan namanya.
Keberhasilan uji coba ini tidak hanya akan mengubah cara ilmuwan mempelajari matahari, tetapi juga berpotensi merevolusi sistem peringatan dini di seluruh dunia. Pertanyaannya, apakah CISS mampu memenuhi ekspektasi di tengah keterbatasan waktu saat gerhana total yang hanya berlangsung beberapa menit? Jawabannya akan menentukan arah penelitian korona dalam dekade mendatang.



