Gelombang Panas Eropa: Prancis Mulai Tinggalkan Budaya Anti-AC
Baca dalam 60 detik
- Prancis mencatat suhu terpanas dalam sejarah pada Juni lalu, mendorong pergeseran sikap publik terhadap penggunaan pendingin ruangan.
- Meski 80% warga Prancis menganggap AC tidak ramah lingkungan, gelombang panas ekstrem memaksa banyak keluarga membeli unit portabel.
- Perdebatan soal AC memanas menjelang pemilu presiden, dengan kubu kanan jauh mendukung AC untuk semua, sementara kiri keras menolaknya.

Gelombang panas yang melanda Eropa pekan lalu telah memecahkan rekor suhu tertinggi di Prancis sejak pencatatan dimulai pada 1947, memicu perubahan sikap masyarakat yang selama ini enggan menggunakan pendingin udara (AC).
Data dari layanan cuaca nasional menunjukkan suhu di beberapa kota, seperti Toulouse, mencapai 48 derajat Celsius. Kondisi ini mendorong warga Prancis, yang mayoritas masih menganggap AC sebagai alat yang merusak lingkungan, untuk mulai beralih. Sebuah survei pada awal Juni mengungkapkan delapan dari sepuluh warga Prancis memandang AC tidak ramah lingkungan. Namun, realitas di lapangan berkata lain: unit pendingin ruangan ludes terjual di berbagai toko.
Matthieu Ruquet, warga pinggiran Paris, mengaku sebelumnya menolak AC. Namun, setelah suhu di apartemennya mencapai 36 derajat Celsius, ia bersama istrinya yang berasal dari Amerika Serikat memutuskan membeli unit portabel untuk melindungi putri mereka yang berusia dua tahun dan anjing peliharaan. "Saya tidak tumbuh dengan AC," ujarnya. "Masalah utama bagi saya adalah membeli AC akan membuat planet semakin panas." Ironisnya, ketika istrinya pergi ke toko, stok sudah habis.
Para ahli menegaskan bahwa dampak lingkungan AC sangat bergantung pada sumber energinya. Francois Gemenne, pakar IPCC, menyatakan bahwa "AC bukan masalah lingkungan di Prancis saat ini" karena negara tersebut sangat bergantung pada tenaga nuklir yang rendah karbon. Namun, ia memperingatkan bahwa penggunaan AC yang berlebihan tetap bermasalah jika tidak diimbangi dengan desain bangunan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Urbanis Clement Gaillard menyoroti bahwa bangunan modern dengan jendela kaca besar atau insulasi yang hanya efektif di musim dingin justru memperparah efek panas. Sementara itu, Vincent Viguie dari CIRED menjelaskan bahwa meskipun AC tidak memanaskan atmosfer secara global, di daerah perkotaan yang padat dan minim ventilasi, udara panas yang dikeluarkan AC dapat meningkatkan suhu lokal hingga beberapa derajat. Simulasi di Lyon pada 2025 menunjukkan kenaikan 1,75ยฐC akibat pemasangan AC di fasad bangunan.
Perdebatan ini turut meramaikan panggung politik menjelang pemilihan presiden Prancis. Calon dari sayap kanan, Marine Le Pen, mendorong pemasangan AC untuk semua warga. "Cuaca ekstrem seperti ini membunuh orang," katanya. Sebaliknya, rival dari kiri keras, Jean-Luc Melenchon, menolak ide tersebut. "Kita tidak bisa memasang AC di mana-mana. Itu solusi palsu yang justru memperburuk masalah," ujarnya, seraya menyerukan perbaikan insulasi bangunan.
Klimatolog Christophe Cassou mengkhawatirkan bahwa debat iklim menjelang pemilu akan direduksi menjadi sekadar "pro atau kontra AC". "Tapi kita tidak akan membahas apa pun," katanya, mendesak diskusi serius tentang ketahanan kota, pertanian, dan produksi energi. Tanpa itu, politisi hanya menciptakan ilusi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada AC di tengah urbanisasi dan perubahan iklim perlu diimbangi dengan kebijakan tata ruang dan bangunan hijau. Dengan suhu yang terus meningkat, pertanyaan mendasar bukan lagi "AC atau tidak", melainkan bagaimana menyejukkan kota tanpa mengorbankan masa depan lingkungan.



