Evakuasi Pelaut di Selat Hormuz Dihentikan Sementara Usai Serangan Kapal
Baca dalam 60 detik
- Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara evakuasi 11.000 pelaut yang terjebak di Selat Hormuz setelah sebuah kapal kargo rusak akibat proyektil tak dikenal di Teluk Oman.
- Serangan terjadi di luar kerangka evakuasi IMO yang baru dimulai Selasa malam, memicu kekhawatiran akan keamanan jalur pelayaran meskipun ada kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
- Lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih separuh dari level sebelum perang, dengan Iran memperingatkan bahwa kapal yang tidak mengikuti jalur resmi tidak akan mendapat jaminan keamanan.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) memutuskan untuk menghentikan sementara operasi evakuasi sekitar 11.000 awak kapal yang terdampar di Selat Hormuz setelah sebuah kapal kargo mengalami kerusakan akibat serangan proyektil misterius di Teluk Oman pada Kamis (25/6). Langkah ini menandai kemunduran dalam upaya kemanusiaan yang baru dimulai setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik.
Menurut pernyataan Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez, penghentian sementara diperlukan untuk memverifikasi kembali jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang masuk dalam daftar evakuasi maupun seluruh kapal lain di kawasan tersebut. โSaya memutuskan untuk menghentikan sementara implementasi rencana evakuasi guna memastikan kembali bahwa jaminan keselamatan yang diperlukan masih berlaku,โ ujar Dominguez. Kapal yang diserang pada Kamis tidak beroperasi dalam kerangka evakuasi IMO yang dimulai Selasa malam, dan tidak ada korban jiwa dilaporkan, meskipun anjungan kapal mengalami kerusakan.
Serangan ini terjadi di tengah ketegangan yang masih membara meskipun ada kesepakatan gencatan senjata. Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), telah memperingatkan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin akan โditindakโ. Otoritas Selat Teluk Persia Iran juga menegaskan bahwa kapal yang menggunakan rute di luar kerangka yang ditetapkan โtidak akan dilindungi oleh jaminan lintas amanโ. Peringatan ini menambah ketidakpastian bagi operator kapal dan negara-negara pengimpor minyak yang bergantung pada jalur tersebut.
Bagi Indonesia, situasi di Selat Hormuz memiliki dampak langsung terhadap harga energi dan stabilitas pasokan minyak mentah. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia sangat rentan terhadap gangguan di jalur pelayaran strategis ini. Kenaikan harga minyak dunia akibat ketidakpastian di Selat Hormuz dapat membebani anggaran subsidi energi dan memicu inflasi. Pemerintah Indonesia perlu memantau perkembangan ini dan menyiapkan langkah antisipatif, seperti diversifikasi sumber impor minyak atau optimalisasi cadangan strategis.
Ke depan, IMO harus berkoordinasi dengan semua pihak untuk memulihkan kepercayaan terhadap keamanan jalur evakuasi. Pertanyaan mendasar yang muncul: apakah kesepakatan damai antara AS dan Iran cukup kuat untuk menjamin keselamatan pelayaran di salah satu titik paling rawan di dunia? Ataukah insiden ini akan memicu eskalasi baru yang kembali mengancam stabilitas kawasan dan ekonomi global?



