Waspada, Modus Penipuan Baru: Ponsel Dikendalikan dari Jarak Jauh, Rekening Raib
Baca dalam 60 detik
- Penipu kini mampu mengambil alih kendali ponsel korban secara penuh melalui aplikasi berbahaya, tanpa perlu korban mengklik tautan mencurigakan.
- Modus ini menargetkan nasabah bank dan pengguna dompet digital, dengan kerugian yang dilaporkan mencapai puluhan ribu ringgit dalam hitungan menit.
- Pakar keamanan siber mendesak pengguna untuk tidak pernah memberikan akses aplikasi ke fitur penting dan segera memutus koneksi internet jika mencurigai aktivitas aneh.

Panggilan telepon yang tampak biasa bisa berubah menjadi mimpi buruk finansial dalam sekejap. Sejumlah warga Malaysia melaporkan kehilangan kendali atas ponsel mereka setelah menerima telepon dari oknum yang menyamar sebagai petugas bank, kurir, atau bahkan menawarkan hadiah. Dalam hitungan menit, pelaku menguras rekening korban tanpa perlu korban mengklik tautan berbahaya.
Modus yang mengemuka di Malaysia ini menunjukkan pergeseran taktik penipuan daring. Alih-alih mengandalkan tautan phishing, pelaku kini memanfaatkan aplikasi berbahaya yang diinstal korban sendiri. Aplikasi tersebut memberi akses penuh kepada pelaku untuk mengendalikan layar ponsel, membuka aplikasi perbankan, dan melakukan transaksi tanpa sepengetahuan pemilik. Fenomena ini bukan hanya ancaman bagi Malaysia, tetapi juga bagi Indonesia yang memiliki tingkat adopsi perbankan digital dan e-wallet yang tinggi.
Salah satu korban, Lim (42), warga Shah Alam, menuturkan bahwa ia menerima telepon dari seseorang yang mengaku petugas bank. Penelpon memperingatkan adanya transaksi mencurigakan dan memintanya mengunduh aplikasi untuk verifikasi keamanan. Setelah aplikasi terpasang, Lim menyaksikan sendiri aplikasi di ponselnya terbuka dengan sendirinya. "Saya bisa melihat aplikasi terbuka sendiri, tetapi saya tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi," ujarnya. Dalam beberapa menit, pelaku mengakses aplikasi perbankannya dan menguras dana sekitar RM7.800 (sekitar Rp28 juta) sebelum Lim sempat memutus koneksi internet dan menghubungi bank.
Korban lain, Tan (56) dari Ipoh, dihubungi melalui WhatsApp pada 1 Juli. Ia ditawari hadiah RM3.000 dan memilih uang tunai. Setelah itu, panggilan dialihkan ke seorang "manajer" yang diduga orang asing. Tan mengaku mengikuti instruksi untuk mengklaim hadiah, tetapi kemudian pelaku mengambil alih layar ponselnya dan mengarahkannya dari satu situs ke situs lain tanpa memberinya waktu berpikir. Tan sempat menghubungi layanan pelanggan platform, mengaktifkan kill switch, dan melapor polisi dalam satu jam. Namun, ia tetap kehilangan RM4.500 dari akun pay-later dan RM6.000 dari fasilitas pinjaman, total RM10.500. Uang RM4.500 bahkan ditransfer ke entitas bernama 'Lucky Boy Trading' yang tidak ia kenal.
Modus serupa juga dialami Ravi (35) dari Subang. Ia dihubungi oleh orang yang mengaku kurir dan diminta menginstal aplikasi untuk menjadwalkan ulang pengiriman paket. Setelah memberikan akses, Ravi melihat notifikasi dan pesan di ponselnya muncul dan hilang sendiri. "Saya pikir saya hanya mengikuti instruksi untuk menerima paket. Saya tidak pernah menyangka mereka bisa mengambil alih ponsel saya," katanya.
Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan terhadap aplikasi yang meminta izin berlebihan, terutama aksesibilitas atau remote control. Di Indonesia, modus serupa berpotensi besar terjadi mengingat tingginya penggunaan aplikasi perbankan dan e-wallet. Otoritas jasa keuangan di Indonesia telah berulang kali memperingatkan masyarakat untuk tidak mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi dan tidak memberikan akses ke fitur-fitur sensitif. Namun, pelaku terus berinovasi dengan memanfaatkan social engineering yang semakin meyakinkan.
"Saya selalu berpikir penipuan terjadi karena orang mengklik tautan mencurigakan. Saya tidak pernah menyangka penipu bisa mengambil alih ponsel saya saat saya masih memegangnya," ujar Lim.
Para ahli keamanan siber menilai bahwa pencegahan terbaik adalah dengan tidak pernah menginstal aplikasi yang diminta melalui telepon atau pesan, sekalipun tampak resmi. Jika menerima panggilan mencurigakan, sebaiknya langsung memutus komunikasi dan menghubungi lembaga resmi melalui saluran yang terverifikasi. Selain itu, aktifkan autentikasi dua faktor dan batasi jumlah dana di rekening yang terhubung dengan aplikasi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah aparat penegak hukum di kawasan Asia Tenggara mampu berkolaborasi untuk membongkar jaringan penipuan lintas negara ini. Mengingat pelaku sering beroperasi dari luar negeri dan menggunakan teknologi yang sulit dilacak, upaya penegakan hukum membutuhkan kerja sama internasional yang erat. Sementara itu, edukasi publik menjadi tameng utama untuk mencegah jatuhnya korban baru.



