IHSG Dibayangi Data Tenaga Kerja AS: Wall Street Menguat, Tokyo Dibuka Hijau
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei dibuka menguat 0,91% menyusul rilis data nonfarm payrolls AS yang di bawah ekspektasi, memicu optimisme pelonggaran moneter The Fed.
- Penguatan pasar saham global berpotensi mendorong arus modal asing ke pasar emerging market, termasuk Indonesia, meski nilai tukar yen masih fluktuatif.
- Pelaku pasar kini menantikan data inflasi AS berikutnya untuk mengonfirmasi arah kebijakan suku bunga, yang akan menentukan pergerakan indeks di kawasan Asia.

Bursa saham Tokyo mengawali perdagangan pekan ini dengan lonjakan signifikan, meniru penguatan Wall Street akhir pekan lalu setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Indeks Nikkei 225 melesat 596,99 poin atau 0,91 persen ke level 66.203,70 pada 15 menit pertama perdagangan, sementara indeks Topix yang lebih luas naik tipis 0,09 persen ke 4.078,70.
Data nonfarm payrolls Juli yang dirilis Jumat lalu menunjukkan penambahan lapangan kerja di AS hanya sekitar 114.000, jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan 175.000. Angka ini memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga acuan, mengingat pasar tenaga kerja yang mulai mendingin. Imbal hasil obligasi pemerintah AS pun turun, memberikan dorongan bagi saham-saham teknologi dan sektor lain yang sensitif terhadap suku bunga.
Di pasar valuta asing, yen masih bergerak fluktuatif. Dolar AS diperdagangkan di kisaran 157,90-92 yen pada pukul 09.00 waktu Tokyo, sedikit melemah dibandingkan posisi di New York yang berada di 157,80-90 yen. Euro juga terpantau stabil di level $1,1556 dan 182,47-49 yen. Pelemahan yen yang berkelanjutan memang menjadi perhatian bagi otoritas Jepang, namun untuk saat ini pelaku pasar lebih fokus pada prospek pelonggaran moneter global.
Bagi pasar Indonesia, penguatan bursa global ini menjadi angin segar di tengah gejolak nilai tukar rupiah yang masih rentan. Arus modal asing yang sempat keluar dari pasar obligasi dan saham domestik berpotensi kembali masuk jika sentimen risiko global membaik. Namun, pelaku pasar tetap waspada terhadap kebijakan Bank Indonesia yang masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk menstabilkan rupiah.
Analis menilai bahwa data tenaga kerja AS yang lemah sebenarnya memberikan ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga, yang pada gilirannya akan melemahkan dolar AS dan mendukung mata uang emerging market, termasuk rupiah. Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi karena inflasi AS belum sepenuhnya terkendali. Jika data inflasi berikutnya menunjukkan penurunan yang konsisten, maka peluang pemangkasan suku bunga pada September semakin besar.
Di sisi lain, penguatan Nikkei juga didorong oleh sektor pertambangan, jasa, dan logam non-besi yang menjadi pemenang utama di Prime Market. Hal ini mencerminkan optimisme terhadap permintaan komoditas global, yang juga berdampak positif bagi ekspor Indonesia, terutama batu bara dan nikel.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pekan ini. Jika angka inflasi menunjukkan penurunan, maka reli pasar saham global berpeluang berlanjut. Namun, jika inflasi masih tinggi, kekhawatiran akan kembalinya kebijakan hawkish The Fed bisa memicu koreksi. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia mampu bertahan di tengah ketidakpastian global ini?



