Piala Dunia 2026: Ketika Rivalitas Amerika Latin Melebur dalam Solidaritas Sepak Bola di California
Baca dalam 60 detik
- Komunitas Latino di California, yang mencapai 40% populasi negara bagian, menunjukkan solidaritas lintas negara saat Piala Dunia 2026 berlangsung, meskipun rivalitas historis masih membara.
- Para penggemar dari Meksiko, Argentina, Kolombia, dan negara Amerika Latin lainnya saling mendukung di zona penggemar San Jose dan Los Angeles, menempatkan kecintaan pada sepak bola di atas perbedaan politik.
- Fenomena ini mencerminkan kekuatan sepak bola sebagai perekat sosial di diaspora, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk belajar dari pengelolaan keragaman suporter di ajang global.

Di sebuah restoran Argentina di Los Angeles, sorak-sorai tidak terdengar ketika Brasil mencetak gol kemenangan 3-0 atas Haiti dalam laga Piala Dunia 2026. Sebaliknya, para pengunjung yang mayoritas pendukung Argentina justru memberikan dukungan kepada Haiti, negara berbahasa Prancis yang kalah telak. "Sulit bagi kami untuk bersorak untuk Brasil," ujar salah satu pengunjung. "Kami suka mereka, tetapi sepak bola adalah urusan lain."
Momen itu hanyalah satu dari sekian banyak gambaran bagaimana Piala Dunia 2026 di Pantai Barat Amerika Serikat menjadi panggung pertemuan antara rivalitas dan solidaritas komunitas Amerika Latin. Dengan sekitar 40 persen penduduk California adalah Latino—5 juta di antaranya berada di Los Angeles County—setiap pertandingan menjadi ajang unjuk identitas sekaligus perayaan kebersamaan. Sembilan negara Amerika Latin yang berlaga di turnamen 48 tim ini membawa serta sejarah persaingan dan perbedaan ideologi, namun sepak bola menjadi bahasa pemersatu.
Di zona penggemar San Jose, Pedro Jr. Rodriguez Flores, warga San Mateo keturunan Meksiko, hadir mengenakan kaus hijau di tengah lautan kuning pendukung Kolombia. "Saya Latino Meksiko, dan di Piala Dunia ini saya mendukung semua negara Latino," katanya. Semangat serupa diungkapkan German Lopez, warga Guatemala yang mengenakan jersey Argentina. Ia rela berkendara dua jam dari Modesto untuk menonton Kolombia, tim favorit keduanya. "Setiap empat tahun, kami harus menikmati. Tidak ada politik yang terlibat," ujarnya.
Namun, bukan berarti rivalitas lenyap begitu saja. Hubungan Meksiko dan Argentina, misalnya, tetap diwarnai sentimen historis. Argentina kerap menyingkirkan Meksiko di Piala Dunia, termasuk di Qatar 2022. "Kami punya semacam rivalitas, karena mereka selalu mengalahkan kami," kata Rodriguez. "Tapi kami tidak benar-benar menyukai mereka." Meski begitu, puluhan penggemar Meksiko tetap bersorak saat Argentina mengalahkan Austria 2-0 di restoran Fuegos Argentine. Setelah pertandingan, pendukung Meksiko dan Argentina menari bersama di tempat parkir.
Alex Sasayama, pengamat komunitas Amerika Latin di Los Angeles, mencatat bahwa persahabatan dan persaingan sering bertabrakan selama Piala Dunia, menciptakan situasi yang tidak nyaman. "Menonton bersama teman-teman dari Meksiko selalu menjadi masalah besar. Tapi jika Argentina dan Meksiko bertanding, pasti ada yang kecewa," ujarnya. Fenomena ini menunjukkan betapa sepak bola mampu membangkitkan emosi yang kompleks di tengah diaspora.
Bagi Indonesia, dinamika ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan keragaman suku dan budaya yang melampaui jumlah negara Amerika Latin, pengalaman California menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi wahana integrasi sosial. Namun, pengelolaan rivalitas—seperti yang terjadi antara pendukung Persija dan Persib—memerlukan pendekatan yang matang agar tidak berujung konflik. Model solidaritas lintas batas yang terlihat di zona penggemar San Jose bisa menjadi inspirasi bagi penyelenggaraan turnamen internasional di masa depan.
Emerson Santiago Diaz Vega, pedagang kaus timnas asal Kolombia yang kini tinggal di San Jose, berharap timnya bisa bertemu Argentina lagi setelah kalah tipis 1-0 di final Copa America 2024. "Kami kalah tipis dan kami datang untuk balas dendam. Ini sepak bola, tidak terduga," katanya. Kaus Lionel Messi menjadi barang paling laris di lapaknya, habis terjual setelah sang bintang mencetak lima gol dalam dua laga awal. Pertanyaan yang menggantung: akankah solidaritas ini bertahan ketika dua negara Latino saling berhadapan di babak gugur? Atau justru rivalitas lama yang akan muncul ke permukaan?



