Eropa Percepat Modernisasi Militer di Tengah Ketidakpastian Komitmen AS
Baca dalam 60 detik
- Uni Eropa menggelontorkan dana hingga €800 miliar untuk memperkuat pertahanan mandiri, merespons perang Ukraina dan sinyal Washington yang mulai menarik diri.
- Pusat pelatihan tempur di Perancis dan adopsi teknologi drone serta robot darat NATO menjadi bukti pergeseran dari koordinasi reaktif ke kesiapan proaktif.
- Para analis memperingatkan bahwa belanja besar tanpa integrasi sumber daya antarnegara hanya akan mempertahankan ketergantungan pada AS, bukan menciptakan otonomi strategis sejati.

Uni Eropa mempercepat transformasi pertahanan dengan mengalokasikan dana investasi militer hingga €800 miliar (sekitar US$910 miliar) melalui rencana Readiness 2030, menyusul tekanan dari Washington yang menuntut Eropa mengambil alih tanggung jawab keamanan kontinentalnya sendiri.
Langkah ini dipicu oleh perang Ukraina yang masih berkecamuk di perbatasan timur Eropa serta sinyal ambiguitas Amerika Serikat di bawah pemerintahan terbaru yang meluncurkan tinjauan enam bulan untuk mengevaluasi apakah sekutu Eropa sudah cukup mandiri. Komisaris Pertahanan dan Antariksa Eropa, Andrius Kubilius, menyebut perubahan ini sebagai pergeseran tektonik yang menuntut pendekatan fundamental baru. “Kami bergerak dari koordinasi reaktif menuju kesiapan proaktif,” ujarnya.
Di lapangan, transformasi itu sudah terlihat. Pusat pelatihan tempur perkotaan CENZUB di Sissonne, Perancis utara, menjadi salah satu ujung tombak modernisasi. Di fasilitas seluas kota tiruan ini, prajurit berlatih menghadapi pertempuran jalanan dengan sensor yang merekam setiap tembakan, pergerakan, dan keputusan. Data itu kemudian dianalisis untuk menyempurnakan taktik. Kolonel Frederic Chamaud, komandan resimen infanteri yang mengelola CENZUB, menekankan pentingnya realisme dalam pelatihan. “Bagi para pemimpin muda, sangat penting berlatih seperti ini sebelum bergabung dengan unit tempur,” katanya.
Perusahaan teknologi pertahanan Thales baru-baru ini meningkatkan kemampuan analitik pusat tersebut. Sensor yang dipasang pada prajurit, kendaraan, dan medan latih memungkinkan komandan mengubah performa di lapangan menjadi pelajaran taktis. Manajer lini produk Thales, Gregoire Hubsch, menjelaskan bahwa alat ini membantu berbagai pihak memahami medan tempur sesungguhnya. Ia menambahkan, pelatihan militer harus terus berevolusi seiring maraknya penggunaan drone, sehingga kondisi latihan harus semirip mungkin dengan pertempuran modern.
NATO pun tidak tinggal diam. Aliansi ini mulai mengintegrasikan robot darat tak berawak ke dalam latihan militer untuk membiasakan tentara menghadapi ancaman baru. Semua ini merupakan bagian dari upaya Eropa membangun kembali kapabilitas militernya. Data menunjukkan belanja pertahanan Eropa pada 2025 naik 14 persen dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh kekhawatiran keamanan yang meningkat dan seruan otonomi strategis.
Namun, para pakar mengingatkan bahwa anggaran besar saja tidak cukup. Sven Biscop, direktur program Europe in the World di lembaga riset Egmont Institute, Brussels, menilai negara-negara Eropa harus lebih banyak berbagi sumber daya, bukan sekadar memperbesar militer nasional masing-masing. “Risikonya, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, setiap negara Eropa akan memiliki pasukan nasional yang lebih besar, tetapi masing-masing tetap bergantung pada AS seperti sekarang. Itu akan menjadi peluang yang terbuang percuma,” ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menghadirkan pelajaran penting. Ketergantungan pada satu kekuatan besar dalam pertahanan terbukti rentan. Langkah Eropa menuju otonomi strategis dapat menjadi referensi bagi negara-negara di kawasan Indo-Pasifik, termasuk Indonesia, yang tengah memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Pertanyaannya, mampukah Eropa benar-benar melepaskan diri dari bayang-bayang AS, atau justru terjebak dalam belanja militer yang tidak efisien?



