Duka Argentina: Lionel Messi Kehilangan Sang Ayah, Jorge Messi, yang Jadi Pilar Kariernya
Baca dalam 60 detik
- Jorge Messi, ayah sekaligus agen Lionel Messi, tutup usia pada Jumat lalu di Rosario setelah berjuang melawan kanker; jenazahnya dimakamkan Minggu di hadapan keluarga dan sejumlah rekan setim.
- Kehadiran Jorge di balik layar menjadi fondasi kesuksesan Messi, dari memandu langkah pertamanya di lapangan hingga merancang kontrak-kontrak raksasa di Barcelona, PSG, dan Inter Miami.
- Kepergian ini menambah beban emosional Messi yang sempat tampak terguncang selama Piala Dunia 2022, dan kini dunia sepak bola memberikan penghormatan terakhir untuk sang figur kunci.

Buenos Aires, 9 Agustus 2025 โ Dunia sepak bola Argentina berduka. Lionel Messi, kapten timnas yang baru saja mengantarkan negaranya juara dunia, harus melepas sosok paling berpengaruh dalam hidupnya: sang ayah, Jorge Messi, yang meninggal dunia pada Jumat malam di sebuah klinik di Rosario setelah berjuang melawan kanker. Kepergian pria 68 tahun itu meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi jutaan penggemar yang selama ini menyaksikan perjalanan karier megabintang berjuluk La Pulga tersebut.
Messi tiba di Argentina pada Sabtu malam dengan penerbangan pribadi dari Miami, ditemani istri, Antonela Roccuzzo, dan ketiga anaknya. Upacara pemakaman digelar secara tertutup di pemakaman El Prado, kota Perez, dekat Rosario, pada Minggu sore. Hanya keluarga inti dan beberapa rekan setim yang diundang. Di luar gerbang pemakaman, para penggemar meninggalkan pesan-pesan duka di atas kertas yang ditempel di pagar: "Tetap kuat, Leo, kami mencintaimu" dan "Tetap kuat, keluarga Messi". Seorang penggemar berusia 15 tahun, Lucas Blanco, bahkan menempuh perjalanan jauh hanya untuk memberikan dukungan. "Dia telah memberi begitu banyak kebahagiaan untuk negara ini, sekarang giliran kami untuk memberikan sedikit dukungan," ujarnya.
Kepergian Jorge Messi bukan sekadar kehilangan pribadi bagi Lionel. Jorge adalah arsitek di balik layar yang membentuk karier sang anak sejak kecil. Seorang pekerja logam di Rosario, Jorge memperkenalkan Messi pada sepak bola di usia empat tahun di lapangan kosong tempat anak-anak lokal bermain. Pada 2000, ketika Barcelona merekrut Messi yang saat itu berusia 13 tahun untuk menjalani perawatan defisiensi hormon pertumbuhan, Jorge rela meninggalkan pekerjaan, istri, dan tiga anak lainnya di Argentina untuk menetap di Spanyol demi mendampingi Lionel. "Saat kami tiba di Barcelona, saya sering mengunci diri di kamar untuk menangis sendirian, dan ayah saya juga melakukan hal yang samaโtanpa saya melihatnya atau mengira saya tidak melihatnya. Kami berpura-pura baik-baik saja, padahal kami sedang berjuang," kenang Messi suatu kali.
Jorge kemudian berperan sebagai agen yang menegosiasikan kontrak-kontrak penting bagi Messi, mulai dari Barcelona, Paris Saint-Germain, hingga Inter Miami. Kehadirannya selalu menjadi penyeimbang di tengah tekanan luar biasa yang dihadapi sang putra. Selama Piala Dunia 2022 di Qatar, ketidakhadiran Jorge di tribun penonton sempat menimbulkan spekulasi. Keluarga Messi meminta media untuk bersikap manusiawi, sementara Messi sendiri sempat menangis setelah mencetak gol melawan Aljazair dan mengakui sedang menghadapi "situasi di luar olahraga". "Saya melewati beberapa hari yang sulit dan rumit," akunya. "Tetapi saya berterima kasih kepada seluruh delegasi dan rekan setim karena mereka berdiri di samping saya, seperti biasa." Setelah kekalahan di final Piala Dunia melawan Spanyol, Messi langsung kembali ke Rosario untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Duka mendalam juga datang dari rekan-rekan setim. Gelandang Boca Juniors, Leandro Paredes, menyatakan keinginannya untuk hadir, sementara Rodrigo De Paul, rekan setim Messi di Inter Miami, terbang ke Argentina. Setelah mencetak gol dalam kekalahan 2-1 dari Monterrey di Miami pada Sabtu, De Paul memberi penghormatan dengan membuka jerseynya dan memperlihatkan kostum nomor 10 milik Messi. Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) telah menginstruksikan seluruh pertandingan di semua kelompok umur untuk mengheningkan cipta selama satu menit dan mengenakan ban lengan hitam selama sepekan ke depan.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kepergian Jorge Messi mengingatkan bahwa di balik setiap legenda, ada sosok yang rela berkorban tanpa pamrih. Kisah Jorge yang meninggalkan segalanya demi masa depan anaknya adalah cerminan pengorbanan orang tua yang universal, yang juga terasa di banyak keluarga Indonesia yang mendukung anak-anaknya mengejar mimpi di kancah global. Tragedi ini juga menjadi pengingat bahwa tekanan mental yang dihadapi atlet profesional sering kali tersembunyi di balik sorotan panggung, dan dukungan keluarga adalah fondasi yang tak ternilai.
Ke depan, pertanyaan besar muncul: bagaimana Messi akan melanjutkan kariernya tanpa kehadiran ayahnya yang selama ini menjadi penasihat utama? Dengan kontraknya di Inter Miami yang masih berjalan, Messi harus menemukan keseimbangan baru antara ambisi profesional dan proses berduka. Mampukah ia bangkit dan kembali menunjukkan keajaiban di lapangan, seperti yang selalu ia lakukan setelah menghadapi cobaan? Dunia akan menyaksikan, dengan harapan bahwa kenangan indah bersama sang ayah akan menjadi kekuatan baginya untuk melangkah maju.



