Gulungan Herculaneum Terbaca Utuh untuk Pertama Kalinya Berkat AI
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti berhasil membaca seluruh isi gulungan Herculaneum yang hangus akibat letusan Vesuvius menggunakan AI dan pencitraan canggih.
- Temuan ini membuka akses ke lebih dari 600 gulungan lain yang belum tersentuh, dengan hadiah US$1 juta bagi yang mampu membaca satu gulungan utuh.
- Teknologi virtual unwrapping memungkinkan preservasi artefak tanpa kerusakan, mempercepat studi filsafat dan etika kuno.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para peneliti berhasil membaca secara utuh isi sebuah gulungan Herculaneum yang hangus akibat letusan Gunung Vesuvius hampir 2.000 tahun lalu, berkat kombinasi kecerdasan buatan dan teknik pencitraan resolusi tinggi. Capaian ini tidak hanya mengungkap teks kuno yang selama ini tersembunyi, tetapi juga membuka jalan bagi pembacaan ratusan manuskrip lain yang masih tersegel di perpustakaan villa Romawi tersebut.
Gulungan tersebut merupakan bagian dari koleksi Perpustakaan Herculaneum yang terkubur dalam abu vulkanik pada tahun 79 Masehi. Selama berabad-abad, kondisinya yang rapuh dan menghitam membuat para arkeolog enggan membukanya secara fisik karena risiko kerusakan permanen. Kini, melalui metode virtual unwrapping, tim yang dipimpin oleh Brent Seales dari University of Kentucky berhasil memetakan tinta pada lapisan papirus tanpa menyentuh gulungan sama sekali.
Proyek yang dikenal sebagai Vesuvius Challenge ini telah mengalokasikan dana hadiah total US$1,8 juta untuk mendorong inovasi dalam membaca teks karbonisasi. Langkah terbaru mereka adalah merilis seluruh data, kode, dan model secara terbuka, serta menawarkan US$1 juta bagi individu atau tim pertama yang mampu membaca utuh salah satu gulungan lain. Menurut Nat Friedman, eksekutif teknologi AS yang menjadi sponsor utama, algoritma deteksi tinta yang ada masih bisa ditingkatkan secara dramatis, dan ia mengajak lebih banyak pakar komputasi untuk bergabung.
Federica Nicolardi, papyrologist utama Vesuvius Challenge, menekankan bahwa teknologi ini mengubah paradigma konservasi. Sebelumnya, para ahli harus memilih antara merusak artefak untuk membacanya atau menyimpannya tanpa diketahui isinya. Kini, dengan virtual unwrapping, kedua tujuan itu bisa dicapai bersamaan. Ia menyebut kemajuan ini sebagai lompatan besar: dalam semalam, timnya berhasil membuka satu gulungan penuhโsesuatu yang sebelumnya hanya mimpi.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan dalam konteks pelestarian naskah kuno Nusantara, seperti lontar dan manuskrip kertas yang rentan rusak. Teknik serupa dapat diadopsi untuk membaca teks-teks bersejarah tanpa harus membuka lipatan yang rapuh, misalnya naskah-naskah dari era Majapahit atau koleksi perpustakaan kerajaan. Kolaborasi antara arkeolog, ahli komputasi, dan filolog menjadi kunci untuk mengungkap warisan budaya yang selama ini tersembunyi.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi teknis, melainkan pendanaan dan koordinasi lintas disiplin. Dengan algoritma yang terus disempurnakan, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan seluruh perpustakaan Herculaneum dapat terbaca. Pertanyaannya, sejauh mana teknologi ini bisa diadaptasi untuk naskah-naskah di belahan dunia lain, termasuk Indonesia?



