Kirk Hammett Kembali Kritik Musik Pop Modern: Terlalu Sempurna, Kehilangan Jiwa
Baca dalam 60 detik
- Gitaris Metallica, Kirk Hammett, mengecam musik pop kontemporer sebagai 'sampah' karena produksi yang terlalu mulus dan minim perjuangan.
- Komentar ini muncul setelah ia memicu kontroversi dengan kaus bertuliskan 'Taylor Swift adalah Psyop CIA' dan insiden jatuh di atas panggung.
- Hammett merindukan era ketika musisi harus berjuang keras belajar, yang menurutnya melahirkan kreativitas dan karakter unik.

Gitaris legendaris Metallica, Kirk Hammett, kembali melontarkan kritik pedas terhadap industri musik pop modern. Dalam wawancara terbaru dengan The Irish Times, ia menyebut sebagian besar lagu pop saat ini sebagai 'sampah'—sebuah pernyataan yang langsung memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar musik, terutama setelah ia sebelumnya membuat geram penggemar Taylor Swift.
Hammett, yang dikenal dengan permainan gitarnya yang agresif dan penuh distorsi, menyesalkan hilangnya 'daya tarik' dari proses belajar musik yang penuh perjuangan. "Saya mulai belajar dari rekaman, mengembangkan telinga, memutar lagu berulang kali. Dulu, jika tiga gitaris berbeda memainkan lagu yang sama, hasilnya akan berbeda. Ada pesona di situ," ujarnya. Ia khawatir dengan kecenderungan musik modern yang terlalu 'sempurna' secara teknis, namun kehilangan jiwa dan karakter.
Kritik ini bukan pertama kali dilontarkan Hammett. Beberapa hari sebelumnya, ia menjadi sorotan setelah mengenakan kaus bertuliskan 'Taylor Swift is a CIA Psyop' saat konser Metallica di Puskás Aréna, Budapest, pada 13 Juni. Aksi tersebut sontak memicu gelombang kecaman dari 'Swifties', sebutan penggemar Taylor Swift. Tak lama setelah itu, saat tampil di Dublin, Hammett terpeleset di panggung saat membawakan lagu 'Seek and Destroy'. Banyak penggemar Taylor Swift dengan cepat mengaitkannya sebagai 'karma', namun Hammett menanggapinya dengan santai melalui unggahan Instagram Stories bertuliskan 'Slip and Destroy'.
Dalam wawancara yang sama, Hammett menegaskan bahwa kritiknya bukan sekadar nostalgia buta. "Saya berharap semua musisi hebat yang bisa belajar sendiri melalui internet ini melangkah maju dan menciptakan hal baru, lagu baru, masa depan musik dengan standar yang lebih tinggi dari sekarang. Karena saya akan mengatakannya lagi: sampah. Maaf untuk semua penggemar pop di luar sana," tegasnya.
Di Indonesia, perdebatan serupa kerap muncul antara pendukung musik 'indie' atau 'underground' dengan penggemar musik pop mainstream. Banyak musisi lokal yang juga mengeluhkan dominasi lagu-lagu dengan formula produksi yang seragam, minim eksplorasi artistik. Pandangan Hammett bisa menjadi cermin bagi industri musik Tanah Air yang tengah bergulat antara tuntutan pasar dan hasrat berkreasi. Apakah kritik seperti ini akan mendorong perubahan, atau hanya akan menjadi gema di ruang hampa? Yang jelas, perang opini antara 'keras kepala' dan 'mainstream' sepertinya tak akan pernah usai.
Pertanyaan besarnya: akankah para musisi pop—baik di Barat maupun Indonesia—berani keluar dari zona nyaman dan menghadirkan sesuatu yang lebih 'berantakan' namun autentik? Atau justru pendengar yang harus lebih kritis dalam memilih konsumsi musiknya? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: kritik Hammett telah membuka kembali diskusi tentang esensi bermusik di era digital.



