Skotlandia di Ujung Tanduk: Nasib Tartan Army Bergantung pada Banyak Faktor
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia harus menang dan berharap hasil pertandingan lain berpihak untuk lolos ke babak 32 besar Piala Dunia.
- Para suporter yang sudah menjual mobil dan berhenti kerja memilih bertahan di Amerika Serikat meski ketidakpastian masih tinggi.
- Jika lolos, Skotlandia berpotensi menghadapi Jerman, Meksiko, atau Prancis/Norwegia di tiga kota berbeda dengan biaya perjalanan yang bervariasi.

Nasib Skotlandia di Piala Dunia 2026 menggantung setelah kekalahan 3-0 dari Brasil, membuat para pendukung setianya harus bersiap menghadapi skenario paling rumit dalam sejarah keikutsertaan mereka. Dengan hanya satu gol yang dicetak dalam tiga pertandingan grup, tim asuhan Steve Clarke kini berada di posisi ketujuh terbaik di antara peringkat ketiga grup, sementara hanya delapan dari dua belas grup yang telah menyelesaikan fase penyisihan.
Ketidakpastian ini memicu dilema logistik bagi ribuan anggota Tartan Army yang telah menghabiskan tabungan dan waktu di Amerika Serikat. Dave Watson, presenter podcast No Scotland No Party, awalnya telah memesan tiket pulang setelah pertandingan final, namun kini berencana menunda kepulangan dan pergi ke New York untuk menunggu kepastian. Sementara itu, Callum dari Linwood mengaku telah menjual mobil dan berhenti dari pekerjaannya demi bisa bertahan di Amerika. "Ayah saya pulang Jumat, dia harus kerja. Tapi saya tidak akan pulang sekarang. Saya akan tunggu dan lihat apa yang terjadi," ujarnya.
Alan Horsburgh, yang tinggal di Kopenhagen, menghadapi teka-teki logistik yang lebih pelik. Dalam perjalanan bus lima jam dari Miami ke Orlando, ia akan menghitung jutaan kemungkinan kombinasi hasil pertandingan. "Saya bisa memutuskan pulang atau memesan tiket untuk istri saya terbang kembali. Saya bisa mendapat tiket murah ke Boston dengan miles, tapi tidak ideal jika kami harus main di Mexico City," katanya.
Jika Skotlandia berhasil melaju, tiga kota tujuan telah menanti: Boston, Mexico City, dan New York/New Jersey. Boston sudah akrab bagi suporter Skotlandia karena menjadi lokasi dua pertandingan grup sebelumnya. Stadion berkapasitas 64.000 kursi ini menawarkan banyak hiburan seperti pertandingan bisbol di Fenway Park. Sementara Mexico City menyajikan pengalaman bermain di Stadion Azteca yang legendaris, meski altitude 2.200 meter bisa menjadi tantangan fisik. New Jersey dengan MetLife Stadium berkapasitas 78.000 kursi menjadi opsi termahal, dengan biaya perjalanan pulang-pergi dari Penn Station mencapai $98.
Bagi penggemar yang memilih bertahan, biaya akomodasi dan transportasi menjadi beban tambahan. Tiket pesawat dari Miami ke Boston dibanderol mulai ยฃ261, sementara ke New York hanya ยฃ17. Namun, jika harus ke Mexico City, biaya langsung mencapai ยฃ433. Semua ini belum termasuk biaya pulang ke Skotlandia. Leslie Higgins dari Connecticut mengaku kesulitan secara finansial: "Kartu kredit sudah jebol. Jika harus ke Boston lagi, mungkin tidak semua keluarga bisa ikut."
Dengan segala ketidakpastian ini, satu hal yang pasti: semangat Tartan Army tidak pernah padam. Namun, akankah perjuangan mereka berbuah manis? Atau justru menjadi pelajaran berharga tentang risiko fanatisme tanpa jaminan hasil? Jawabannya akan diketahui dalam beberapa hari ke depan.



