Greta Lee: Dari Hostess Restoran Eksklusif Hingga Bintang Hollywood
Baca dalam 60 detik
- Aktris Greta Lee mengaku merasakan kekuasaan saat bekerja sebagai hostess di restoran Momofuku, New York, selama lima tahun sebelum sukses di dunia akting.
- Pengalaman itu membentuk karakternya, di mana ia harus bersikap tegas kepada pelanggan dan sering kembali setelah mengambil peran akting.
- Kisah perjuangan Greta Lee menjadi inspirasi bagi banyak pekerja seni di Indonesia yang menghadapi ketidakpastian karier.

Greta Lee, bintang film Past Lives dan Spider-Man: Into The Spider-Verse, mengungkapkan bahwa masa kerjanya sebagai hostess di restoran mewah New York City justru memberinya rasa percaya diri yang luar biasa. Dalam wawancara dengan podcast Good Hang milik Amy Poehler, perempuan 43 tahun itu menceritakan bagaimana ia menghabiskan sekitar lima tahun bekerja di Momofuku, restoran milik koki terkenal David Chang, sambil berjuang mengejar karier akting.
Greta Lee menggambarkan pengalamannya sebagai hostess dengan penuh semangat. "Saya merasa sangat berkuasa. Saya seorang hostess, dan saya pada dasarnya didorong untuk bersikap tegas," ujarnya. "Budaya saat itu berbeda. Anda bisa dengan mudah mengatakan kepada seseorang, 'Baik, tunggunya empat jam.'" Restoran Momofuku pada era tersebut dikenal sulit mendapatkan reservasi, sehingga posisi Greta memberinya wewenang yang unik.
Namun, perjalanan kariernya tidak mulus. Greta mengakui bahwa ia sering meninggalkan pekerjaan itu untuk mengambil peran akting, hanya untuk kembali lagi ketika pekerjaan selesai. "Saya pergi dan kembali, seperti siklus. Saya pamit besar-besaran, merasa tidak akan kembali, tapi akhirnya merangkak kembali," kenangnya. Siklus ini berlangsung selama bertahun-tahun, mencerminkan ketidakpastian yang dihadapi banyak aktor pemula.
Meskipun pekerjaan itu terkesan sederhana, Greta Lee menikmati masa-masa tersebut. Ia mengingat era ketika koki dianggap seperti bintang rock, dan menjadi bagian dari dunia kuliner yang bergengsi terasa menyenangkan. "Itu adalah waktu yang sangat menarik untuk makanan, karena David Chang dan lainnya—kami sekarang berteman, anak-anak kami seusia, dan tinggal berdekatan. Lucu mengenang masa itu bersama-sama," tambahnya.
Kisah Greta Lee juga menyentuh sisi perjuangan pribadi. Dalam wawancara dengan Metro, ia mengaku pernah menerima kenyataan bahwa mimpinya mungkin tidak akan terwujud. "Saya tahu bagaimana rasanya merasakan detak jam yang terus berdetak sebagai seorang wanita, dan saya wanita kulit berwarna. Saya di usia 40-an, telah menjalani hidup dengan berbagai pasang surut, dan kemungkinan menerima mimpi yang tidak akan terjadi—lalu tiba-tiba itu terjadi," ungkapnya. Keberhasilan yang datang terlambat justru membuatnya semakin bertekad untuk mengejar ketertinggalan.
Bagi pekerja seni di Indonesia, kisah Greta Lee memberikan perspektif berharga tentang ketekunan. Industri kreatif Tanah Air, terutama perfilman dan teater, seringkali penuh dengan ketidakpastian. Banyak aktor dan aktris muda harus bekerja sampingan sambil menunggu peran, mirip dengan apa yang dialami Greta. Kisahnya mengingatkan bahwa kesuksesan tidak selalu datang cepat, dan pengalaman di luar akting justru bisa membentuk karakter yang lebih kuat.
Greta Lee kini menikmati puncak kariernya setelah perannya dalam Past Lives mendapat pujian kritis. Namun, ia menegaskan bahwa motivasinya bukanlah uang. "Ini bukan tentang uang sama sekali. Ada banyak tahun pengalaman yang hilang—saya merasa sedang menebusnya sekarang," katanya. Pertanyaan yang tersisa: apakah industri hiburan akan semakin memberi ruang bagi talenta yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bersinar, seperti Greta Lee?



