IndiaMART Gandakan Investasi AI Setiap Enam Bulan untuk Basmi Iklan Palsu
Baca dalam 60 detik
- IndiaMART berencana menggandakan belanja AI setiap semester guna memperkuat deteksi iklan palsu dan konten berbahaya.
- Platform ini menggunakan AI untuk mencocokkan pola profil penjual dan mengotomatisasi penanganan permintaan pembeli yang sebelumnya dilakukan call center.
- Langkah ini merupakan respons atas masuknya IndiaMART dalam daftar 'Pasar Terkenal Jahat' AS pada 2022 akibat maraknya barang palsu.

IndiaMART, salah satu pasar daring terbesar di India, akan menggandakan anggaran kecerdasan buatan (AI) setiap enam bulan ke depan untuk menekan iklan palsu dan meningkatkan kualitas konten. Langkah ini diambil di tengah tekanan regulator dan reputasi platform yang sempat tercoreng akibat maraknya barang palsu.
Perusahaan yang menghubungkan pembeli dan penjual dari berbagai kategori—mulai dari pengisi daya ponsel, mesin pemotong rumput, hingga produk farmasi dan kerangka anatomi—ini tidak mengawasi transaksi secara langsung. Namun, volume interaksi yang sangat besar membuat pengawasan konten menjadi tantangan serius.
Chief Product Officer IndiaMART, Amarinder S Dhaliwal, mengungkapkan bahwa AI digunakan untuk mengidentifikasi akun-akun palsu melalui pencocokan pola antarprofil penjual. Selain itu, alat konversi suara-ke-teks real-time diperkenalkan untuk mempercepat pemrosesan permintaan pembeli, menggantikan tugas yang sebelumnya dikerjakan oleh staf pusat panggilan.
IndiaMART sebelumnya masuk dalam daftar "Pasar Terkenal Jahat" (Notorious Markets) yang dirilis Kantor Perwakilan Dagang AS pada 2022. Daftar itu menyoroti barang palsu di platform sebagai "masalah serius." Dhaliwal mengakui ada dua jenis konten bermasalah: kontaminasi pemasok—yaitu penjual berniat buruk yang masuk ke platform—dan daftar jahat seperti obat-obatan terlarang atau senjata api. Ia menambahkan bahwa alat AI telah meningkatkan penyaringan konten semacam itu.
Perusahaan mengembangkan sebagian alat AI secara internal dan juga bekerja sama dengan perusahaan AI eksternal, meski tidak menyebutkan nama mitra. IndiaMART tidak mengungkapkan anggaran AI secara spesifik, namun total pengeluaran teknologi dan konten pada tahun fiskal 2026 mencapai sekitar 2,26 miliar rupee (setara US$23,94 juta).
Bagi pelaku pasar Indonesia, langkah IndiaMART menjadi contoh bagaimana platform e-commerce besar mulai mengandalkan AI untuk menjaga kredibilitas. Di Indonesia, isu barang palsu dan penipuan daring juga menjadi perhatian otoritas dan konsumen. Penerapan AI serupa berpotensi diadopsi oleh platform lokal seperti Tokopedia atau Shopee untuk memperkuat kepercayaan pengguna.
Ke depan, efektivitas strategi AI IndiaMART akan diuji seiring target ambisius menjaring satu juta penjual. Akankah teknologi mampu mengimbangi pertumbuhan volume tanpa mengorbankan kualitas? Atau justru memunculkan celah baru yang perlu diantisipasi?



