Micron Pukul Balik Kekhawatiran AI, Bursa Asia Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Proyeksi pendapatan kuartal IV Micron yang melampaui ekspektasi memicu reli saham teknologi di Asia, dengan Kospi Korea Selatan naik lebih dari 5%.
- Kenaikan ini meredakan kekhawatiran pasar tentang valuasi sektor AI yang terlalu tinggi, didukung rencana SK Hynix listing di Nasdaq senilai US$29 miliar.
- Penurunan harga minyak di bawah level sebelum perang AS-Iran turut mendorong sentimen positif, namun tekanan inflasi masih membayangi kebijakan suku bunga The Fed.

Laporan keuangan gemilang dari raksasa chip AS, Micron Technology, sukses membalikkan sentimen negatif di pasar Asia pada Kamis (25/6). Indeks Kospi Korea Selatan melesat lebih dari 5 persen, memimpin reli yang merembet ke Tokyo, Taipei, dan sejumlah bursa regional lainnya, setelah Micron memproyeksikan pendapatan kuartal keempat mencapai US$50 miliar—jauh di atas estimasi analis yang hanya sekitar US$43 miliar.
Pekan ini pasar modal Asia memang bergerak bagaikan roller coaster. Kekhawatiran bahwa kenaikan saham teknologi selama beberapa tahun terakhir sudah terlalu berlebihan, ditambah keraguan akan kapan investasi triliunan dolar di sektor kecerdasan buatan (AI) akan membuahkan hasil, sempat memicu aksi jual besar-besaran. Di Seoul, Kospi yang sebelumnya berkali-kali mencetak rekor, anjlok 10 persen pada Selasa lalu, dengan saham SK hynix dan Samsung menjadi yang paling terpukul.
Namun, angin segar berembus setelah Micron mengumumkan proyeksi pendapatannya. Angka tersebut langsung memulihkan kepercayaan investor terhadap prospek AI. “Di pasar yang terbiasa bertanya apakah ekspektasi AI sudah terlalu tinggi, jawaban Micron tegas: permintaan tidak surut, melainkan melampaui pasokan,” ujar Stephen Innes, analis SPI Asset Management. Ia menambahkan bahwa memori telah berevolusi dari sekadar pemain pendukung menjadi karakter sentral dalam cerita AI.
Reli ini juga didorong oleh kabar bahwa SK hynix berencana mencatatkan sahamnya di Nasdaq untuk mengumpulkan dana sebesar US$29 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun fasilitas chip. Analis menilai langkah ini berpotensi meningkatkan valuasi perusahaan melalui ekspansi kapasitas dan akses investor asing yang lebih luas. Saham SK hynix langsung melonjak sekitar 13 persen, sementara Samsung naik lebih dari 5 persen. Di Tokyo, indeks Nikkei bertambah 4 persen berkat penguatan saham Advantest dan Tokyo Electron.
Bursa Asia lain seperti Singapura, Taipei, Wellington, Manila, dan Jakarta juga mencatatkan penguatan. Namun, Hong Kong, Shanghai, dan Sydney justru tertekan. Seoul, Tokyo, dan Taipei—yang menjadi rumah bagi banyak produsen perangkat keras dunia—memimpin reli tahun ini, mengambil alih peran dari Wall Street yang didominasi perusahaan perangkat lunak hilir.
Di sisi lain, harga minyak mentah terus merosot lebih dari 1 persen, didorong optimisme perundingan damai AS-Iran dan kabar bahwa puluhan kapal telah melintasi Selat Hormuz. Brent sempat menyentuh US$72,24 per barel, lebih rendah dari level penutupan pada 27 Februari sebelum AS dan Israel memulai serangan ke Iran. West Texas Intermediate juga turun ke US$69,05. Meski demikian, para pelaku pasar masih mencermati rilis indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menjadi tolok ukur inflasi Federal Reserve. Pekan lalu, sikap hawkish The Fed memicu spekulasi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun akibat inflasi yang dipicu perang.
Bagi Indonesia, reli saham teknologi Asia ini menjadi angin segar di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan potensi kenaikan suku bunga global. Penguatan bursa regional dapat mendorong aliran modal asing masuk ke pasar saham Tanah Air, terutama di sektor teknologi dan komoditas. Namun, investor tetap perlu mewaspadai dampak kebijakan moneter AS yang agresif terhadap stabilitas rupiah dan imbal hasil obligasi domestik.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah reli ini hanya bersifat sementara atau menjadi awal tren baru. Dengan Micron dan SK hynix memegang peran kunci dalam rantai pasok AI, kinerja mereka akan terus menjadi barometer sentimen pasar. Sementara itu, perkembangan negosiasi AS-Iran dan data inflasi AS pekan depan akan menentukan arah kebijakan suku bunga global—faktor yang tak bisa diabaikan oleh pasar modal Indonesia.



