Balas Dendam di Houston: Brasil Vs Jepang, Ujian Ancelotti di Fase Gugur
Baca dalam 60 detik
- Brasil akan berhadapan dengan Jepang di babak 32 besar Piala Dunia, membawa misi balas dendam atas kekalahan 3-2 di laga uji coba Oktober lalu.
- Pelatih Carlo Ancelotti hanya punya waktu setahun untuk merombak tim yang nyaris gagal lolos kualifikasi, dan hasil di fase gugur menjadi tolok ukur transformasinya.
- Jepang datang dengan skuat yang banyak berubah karena cedera, sementara Brasil mulai menemukan ritme setelah Neymar kembali dan Vinicius Jr tajam.

Brasil dan Jepang akan kembali bertemu di babak 32 besar Piala Dunia, Senin (27/6) waktu Houston, dalam laga yang sarat muatan sejarah dan misi balas dendam. Bagi Carlo Ancelotti, pertandingan ini menjadi ujian nyata sejauh mana ia mampu membangun kembali tim yang sempat tercabik-cabik di masa awal kepemimpinannya.
Pada Oktober lalu, Brasil dipermalukan Jepang 3-2 di Tokyo setelah unggul dua gol lebih dulu. Tiga gol Jepang tercipta dalam waktu kurang dari 20 menit, menjadikan kekalahan itu sebagai yang pertama bagi Brasil dalam 14 pertemuan. Insiden tersebut menjadi pengingat keras bagi Ancelotti yang baru saja meninggalkan Real Madrid untuk menerima tantangan membesut Selecao.
Saat Ancelotti tiba, Brasil sedang dalam kondisi genting. Mereka baru saja menyelesaikan kampanye kualifikasi terburuk sepanjang sejarah, finis di peringkat kelima zona Amerika Selatan setelah berganti empat pelatih berbeda. Dengan hanya lima jeda internasional sebelum menentukan 26 pemain, pelatih asal Italia itu memanfaatkan tiga di antaranya untuk memperluas cakrawala tim, menghadapi lawan dari Asia, Eropa, dan Afrika.
Pertandingan di Houston akan sangat berbeda dengan laga di Tokyo. Jepang datang dengan skuat yang pincang: cedera menghantam kapten Wataru Endo, pemain sayap Kaoru Mitoma dan Takefusa Kubo, serta Takumi Minamino yang mencetak gol saat mengalahkan Brasil. Pelatih Hajime Moriyasu mengakui bahwa timnya akan menghadapi Brasil yang termotivasi tinggi. "Mungkin mereka akan lebih termotivasi lagi. Kami akan bermain melawan Brasil yang sangat ingin menang. Saya menantikannya," ujarnya.
Di sisi lain, Brasil juga tampil beda. Lini pertahanan yang diturunkan di Tokyo sama sekali tidak masuk skuat Piala Dunia. Setelah hasil imbang 1-1 melawan Maroko di laga pembuka, dua kemenangan beruntun membangkitkan kepercayaan diri. Vinicius Jr sudah mengoleksi empat gol, dan Neymar kembali memperkuat tim setelah tiga tahun absen akibat cedera. "Kami belum sempurna. Bisa lebih cepat dalam mengalirkan bola. Tapi saya senang karena tim sudah banyak berkembang sejak pertandingan pertama. Sekarang ini fase gugur, kami harus menunjukkan kegigihan," kata Ancelotti.
Laga ini juga memiliki benang merah historis yang panjang. Brasil telah lama menjadi tolok ukur sepak bola Jepang, hubungan yang diwakili oleh Zico. Legenda Brasil itu pensiun lalu bermain untuk Sumitomo Metal (kini Kashima Antlers) dari 1991 hingga 1994, ikut membentuk perkembangan sepak bola profesional Jepang. Ia kemudian melatih Jepang dari 2002 hingga 2006, memenangi Piala Asia 2004 dan membawa mereka ke Piala Dunia 2006, di mana Brasil mengalahkan mereka 4-1 di fase grup. Kini, baik Brasil maupun Jepang memiliki dendam lama yang harus diselesaikan di Houston.
Bagi Ancelotti, laga ini menjadi batu loncatan untuk membuktikan bahwa proyek jangka pendeknya berhasil. Jika Brasil mampu melewati Jepang, kepercayaan diri tim akan melesat. Namun jika kembali tersandung, kritik terhadap kepelatihan Ancelotti pasti akan kembali mencuat. Bisakah Brasil membalas kekalahan memalukan Oktober lalu, atau Jepang akan kembali membuat kejutan?



