Cederanya Schlotterbeck: Dortmund Uji Kedalaman Skuad di Lini Belakang
Baca dalam 60 detik
- Cedera engkel memaksa Nico Schlotterbeck absen di Piala Dunia 2026, meninggalkan lubang besar di pertahanan Borussia Dortmund dan Timnas Jerman.
- Pelatih Niko Kovač hanya memiliki dua bek senior tersisa, Waldemar Anton dan Ramy Bensebaini, sehingga harus mengandalkan pemain muda seperti Luca Reggiani dan Joane Gadou.
- Rekrutan anyar Joane Gadou dari Salzburg diharapkan langsung menjadi solusi jangka pendek, meski usianya baru 19 tahun.

Cedera engkel yang dialami Nico Schlotterbeck pada laga persahabatan Jerman kontra Pantai Gading tidak hanya memupus mimpinya tampil di Piala Dunia 2026, tetapi juga memaksa Borussia Dortmund memutar otak menjelang musim 2026/27. Bek andalan yang musim lalu menjadi pilar pertahanan terbaik Bundesliga itu harus menepi dalam waktu lama, meninggalkan celah yang tidak mudah diisi.
Musim 2025/26 menjadi musim terbaik Schlotterbeck selama berseragam Hitam-Kuning. Ia mencetak lima gol dalam 28 penampilan Bundesliga, sekaligus menjadi bagian dari lini pertahanan yang paling sedikit kebobolan—bahkan lebih baik dari Bayern München. Performa itu mengantarkannya menjadi starter di bawah pelatih Julian Nagelsmann, dan ia sempat mencetak gol internasional pertamanya saat Jerman membantai Curaçao 7-1. Namun, cedera engkel yang dideritanya sejak babak pertama melawan Pantai Gading memaksanya ditarik keluar saat jeda, dan cedera itu dipastikan mengakhiri partisipasinya di turnamen empat tahunan tersebut.
Bagi Dortmund, kehilangan Schlotterbeck berarti kehilangan pemimpin lini belakang sekaligus distributor bola yang andal. Pelatih Niko Kovač yang kini cenderung menggunakan formasi tiga bek harus segera mencari pengganti. Waldemar Anton, yang musim lalu hanya absen dua laga Bundesliga, dipastikan akan tetap menjadi pilihan utama. Namun, masalah kebugaran jangka panjang kapten Emre Can dan pensiunnya Niklas Süle membuat opsi senior di bangku cadangan sangat terbatas.
Ramy Bensebaini, bek kiri serba bisa asal Aljazair, menjadi kandidat kuat lainnya. Di usia 31 tahun, ia telah malang melintang di Bundesliga selama tujuh musim dan tampil 29 kali sebagai bek tengah di formasi tiga bek musim lalu. Keunggulannya sebagai pemain kidal—sama seperti Schlotterbeck—dan kemampuannya mencetak tujuh gol membuatnya layak dipertimbangkan. Namun, selain Anton dan Bensebaini, Kovač hanya memiliki pemain muda yang masih perlu diasah.
Dua nama muda yang mencuat adalah Filippo Mané dan Luca Reggiani. Mané, pemain Italia, sempat menjadi starter di laga pembuka musim lalu melawan St. Pauli karena krisis cedera, namun harus menerima kartu merah di akhir pertandingan yang berakhir 3-3. Meski pengalaman pahit itu menjadi pelajaran berharga, ia kemudian tersisih oleh Reggiani, rekan senegaranya yang baru berusia 18 tahun. Dengan tinggi 6 kaki 4 inci, Reggiani tampil solid dan hanya kalah dalam satu dari delapan laga Bundesliga yang ia mainkan di paruh kedua musim.
Dortmund juga telah bergerak di bursa transfer dengan mendatangkan Joane Gadou dari Red Bull Salzburg. Bek Prancis berusia 19 tahun itu tampil 33 kali di semua kompetisi musim lalu dan telah delapan kali memperkuat tim U-19 Prancis. Postur fisiknya yang mirip dengan Reggiani menunjukkan keinginan jelas Dortmund untuk menambah kekuatan di lini belakang. CEO Dortmund, Lars Ricken, menyatakan bahwa Gadou akan langsung memegang peran penting sejak awal musim, bukan sekadar proyek jangka panjang. “Joane akan memperkuat barisan kami dan mengambil peran penting sejak awal musim baru. Kami yakin dengan kualitasnya dan melihat potensi perkembangan yang sangat besar,” ujar Ricken.
Keputusan Kovač kini berada di persimpangan: apakah akan mempercayakan tempat inti kepada pemain senior seperti Bensebaini atau memberikan kesempatan kepada talenta muda seperti Reggiani atau Gadou. Dengan jadwal padat Bundesliga dan target lolos ke Liga Champions, pilihan yang salah bisa berakibat fatal. Pertanyaannya, mampukah para pengganti ini menjaga soliditas pertahanan Dortmund yang musim lalu menjadi yang terbaik di Jerman?



