IHSG Melompat 2,69%, Asing Borong Saham Rp187,6 Miliar di Sesi I
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,69% ke level 6.041,93 pada sesi pertama perdagangan Kamis (25/6/2026), setelah sempat dibuka di zona merah.
- Investor asing mencatatkan pembelian bersih Rp187,6 miliar di seluruh pasar, dengan total transaksi beli Rp3,4 triliun dan jual Rp3,2 triliun.
- Meski indeks melesat, volume transaksi tergolong rendah, hanya Rp7,97 triliun, mengindikasikan sentimen pasar yang masih selektif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan posisi dari awal sesi yang negatif menjadi penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (25/6/2026) siang. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu ditutup melesat 2,69% ke level 6.041,93, didorong aksi beli investor asing yang cukup agresif.
Data perdagangan menunjukkan, sepanjang sesi pertama, investor asing melakukan pembelian bersih (net foreign buy) sebesar Rp187,6 miliar di seluruh pasar. Rinciannya, nilai beli asing mencapai Rp3,4 triliun, sementara nilai jual tercatat Rp3,2 triliun. Lonjakan IHSG ini terjadi setelah indeks sempat tertekan di awal sesi, namun berbalik arah seiring masuknya aliran dana asing ke sejumlah saham unggulan.
Meski indeks melonjak, aktivitas perdagangan justru tidak terlalu ramai. Nilai transaksi hanya mencapai Rp7,97 triliun, dengan volume 13,71 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,03 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar bursa pun masih berkutat di bawah level Rp11.000 triliun, tepatnya Rp10.618 triliun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pergerakan IHSG lebih didorong oleh aksi investor asing yang terfokus pada emiten tertentu, sementara partisipasi ritel domestik cenderung terbatas.
Dari sisi sebaran, mayoritas saham ditutup di zona hijau. Sebanyak 535 emiten mencatatkan penguatan, sementara 139 saham melemah dan 134 lainnya stagnan. Rasio ini menunjukkan sentimen positif yang cukup luas, namun belum diikuti oleh peningkatan volume transaksi yang signifikan.
Menurut analis pasar modal, aksi beli asing yang cukup deras di tengah volume transaksi yang rendah mengindikasikan bahwa investor asing tengah melakukan akumulasi pada harga-harga yang dianggap menarik. "Ini sinyal bahwa asing melihat potensi rebound jangka pendek, meskipun likuiditas pasar belum pulih sepenuhnya," ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan, pergerakan IHSG ke depan masih akan sangat bergantung pada sentimen global dan data ekonomi domestik.
Bagi investor Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa pergerakan IHSG tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental ekonomi secara keseluruhan. Lonjakan indeks yang tidak diimbangi volume transaksi yang tinggi kerap kali bersifat sementara. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah penguatan ini dapat berlanjut pada sesi berikutnya, atau justru akan diikuti aksi ambil untung oleh investor asing.



