Ledakan Maut di Tuas: Perusahaan Didenda Rp5 Miliar, Bosnya Dihukum 18 Bulan Penjara
Baca dalam 60 detik
- Stars Engrg dan direkturnya, Chua Xing Da, dijatuhi hukuman atas ledakan di Tuas pada 2021 yang menewaskan tiga pekerja dan melukai tujuh lainnya.
- Pengadilan menemukan bahwa perusahaan mengabaikan tanda bahaya berulang pada mesin mixer, termasuk kebocoran dan kebakaran kecil, yang akhirnya menyebabkan ledakan.
- Kasus ini menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan kerja di sektor konstruksi Singapura, menjadi peringatan bagi industri serupa di Indonesia.

Pengadilan Singapura menjatuhkan denda S$500.000 (sekitar Rp5,8 miliar) kepada Stars Engrg, perusahaan pemasang sistem proteksi kebakaran, serta hukuman 18 bulan satu minggu penjara kepada direktur tunggalnya, Chua Xing Da, atas ledakan mematikan di lokasi konstruksi Tuas pada Februari 2021. Insiden yang menewaskan tiga pekerja dan melukai tujuh orang ini menjadi salah satu kecelakaan kerja paling tragis di negara kota tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam putusan yang dibacakan pada 25 Juni, Hakim Distrik Tan Jen Tse menekankan bahwa pelanggaran terkait pengoperasian mesin mixer telah berlangsung lama dan perusahaan memiliki cukup waktu untuk memperbaikinya. Chua, yang mengendalikan penuh operasional mesin, terbukti memberikan instruksi yang salah kepada para pekerja. Baik Chua maupun Stars Engrg dinyatakan bersalah pada 26 Mei atas dua dakwaan berdasarkan Undang-Undang Keselamatan dan Kesehatan Kerja setelah menjalani persidangan selama 21 hari.
Korban tewas adalah Shohel Md (23) dan Anisuzzaman Md (29) asal Bangladesh, serta Subbaiyan Marimuthu (38) asal India. Mereka meninggal akibat luka bakar parah yang menutupi 90 persen tubuh mereka. Ledakan terjadi ketika mesin mixer yang digunakan untuk memproduksi lapisan tahan api—yang disebut “fire clay”—mengalami tekanan berlebih akibat kekurangan minyak pemanas. Dua detektor suhu (RTD) tidak berfungsi dengan baik, sehingga tidak ada pemantauan suhu yang memadai di dalam jaket oli mesin. Akibatnya, jaket oli pecah dan menyemburkan aerosol cairan yang kemudian terbakar.
Jaksa penuntut mengungkapkan bahwa Chua mengetahui mesin tersebut tidak aman setelah beberapa insiden “bendera merah”, termasuk kebakaran di dekat katup pembuangan. Namun, alih-alih menyelidiki, Chua mengabaikan peringatan tersebut. Saat persidangan, Chua mengaku tidak menganggap insiden seperti kebakaran dan kebocoran sebagai tanda bahaya. Sikap lalai ini diperparah dengan tindakan menghalangi penyidikan: Chua menyuruh manajer produksinya, Lwin Moe Tun (36), untuk menghapus pesan teks antara Lwin dan Subbaiyan yang membahas penggantian pemanas yang rusak. Lwin Moe Tun kemudian dihukum karena menghalangi penyidikan dan akan menjalani hukuman penjara beberapa pekan.
Jaksa sebelumnya menuntut denda S$600.000 hingga S$800.000 untuk Stars dan hukuman 20–24 bulan penjara untuk Chua. Mereka menekankan bahwa kecelakaan itu sepenuhnya dapat dicegah jika perusahaan dan direkturnya menjalankan operasi mesin dengan lebih serius. “Stars melakukan banyak kegagalan serius dalam tidak mengambil langkah-langkah yang praktis untuk memastikan mesin mixer aman digunakan,” ujar jaksa. Chua dan Lwin Moe Tun akan mulai menjalani hukuman pada 23 Juli.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan keselamatan kerja di sektor konstruksi dan manufaktur, di mana kecelakaan serupa masih kerap terjadi. Badan Perlindungan Pekerja Indonesia (BP2I) mencatat ratusan kecelakaan kerja fatal setiap tahunnya, banyak di antaranya disebabkan oleh kelalaian prosedur dan kurangnya pelatihan. Penerapan sanksi tegas seperti di Singapura bisa menjadi tolok ukur untuk mendorong kepatuhan perusahaan terhadap standar keselamatan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah hukuman ini cukup memberikan efek jera bagi perusahaan lain di kawasan Asia Tenggara, atau justru masih dianggap ringan mengingat tiga nyawa melayang. Dengan mulai berlakunya hukuman pada Juli mendatang, publik akan mengamati apakah langkah pengadilan Singapura ini mampu mengubah budaya keselamatan di industri konstruksi.



