Teleskop Afrika Selatan Tangkap Sinyal Laser Kosmik Tertua dari Alam Semesta Muda
Baca dalam 60 detik
- Teleskop MeerKAT di Afrika Selatan mendeteksi hidroksil megamaser terjauh, berjarak 8 miliar tahun cahaya, dari galaksi yang bertabrakan.
- Sinyal ini setara dengan 'laser alami' yang memancarkan energi jutaan kali lebih kuat dari maser biasa, memberikan jendela ke masa awal kosmos.
- Penemuan ini membuka jalan bagi teleskop SKA dan ngVLA untuk memetakan evolusi galaksi dan lubang hitam supermasif di alam semesta awal.

Astronom yang mengoperasikan teleskop radio MeerKAT di Gurun Karoo, Afrika Selatan, berhasil menangkap sinyal hidroksil megamaser paling jauh yang pernah tercatat—sebuah 'laser kosmik' yang dipancarkan oleh galaksi yang sedang bergabung lebih dari 8 miliar tahun cahaya dari Bumi. Temuan ini tidak hanya memecahkan rekor jarak, tetapi juga membuka babak baru dalam astronomi radio untuk mengintip masa ketika alam semesta masih 'balita'.
Hidroksil megamaser adalah fenomena alam di mana molekul hidroksil (OH) memancarkan gelombang radio secara koheren, mirip laser tetapi dalam frekuensi radio. Sinyal yang ditangkap MeerKAT berasal dari galaksi yang saling bertabrakan dengan dahsyat pada saat alam semesta baru berusia sekitar 5,8 miliar tahun—kurang dari setengah usianya saat ini. Menurut Thato Manamela, peneliti pascadoktoral di Universitas Pretoria, dan Roger Deane, direktur Institut Antar-Universitas untuk Astronomi Intensif Data (IDIA), penemuan ini memberikan gambaran langka tentang interaksi galaksi dan pembentukan bintang ekstrem di kosmos awal.
Yang membuat penemuan ini istimewa adalah kecepatan deteksinya. Dalam waktu observasi hanya lima jam, MeerKAT berhasil menangkap sinyal yang biasanya membutuhkan ratusan jam pengamatan. Keberhasilan ini berkat dua faktor: pertama, lensa gravitasi—di mana galaksi raksasa di depan bertindak seperti kaca pembesar alami yang memperkuat sinyal dari galaksi latar; kedua, kemampuan pita lebar MeerKAT yang memungkinkan pencarian beberapa garis spektrum sekaligus. Para astronom awalnya menargetkan hidrogen netral, tetapi secara tak terduga menemukan sinyal megamaser dalam data yang sama.
Penemuan ini menegaskan bahwa teknologi pengamatan radio telah mencapai tingkat sensitivitas yang cukup untuk menangkap gema dari masa lalu yang sangat jauh. Roger Deane menekankan bahwa kemampuan MeerKAT menemukan sinyal ini dengan cepat membuktikan bahwa umat manusia akhirnya memiliki peralatan untuk melihat sinyal redup dari alam semesta awal. Ini menjadi pratonton bagi apa yang akan dicapai oleh Square Kilometre Array (SKA), proyek mega internasional yang sedang dibangun di Afrika Selatan dan Australia. SKA akan memiliki sensitivitas jauh lebih tinggi dan mampu mendeteksi ribuan megamaser serupa di berbagai rentang waktu kosmik.
“Penemuan ini seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami, tetapi dengan teleskop yang tepat dan sedikit bantuan alam, kami berhasil dalam waktu singkat,” ujar Thato Manamela.
Hidroksil megamaser erat kaitannya dengan penggabungan galaksi. Ketika dua galaksi bertabrakan, gas dan debu terkompresi, memicu ledakan pembentukan bintang dan mengaktifkan molekul OH. Proses yang sama juga dapat mempertemukan lubang hitam supermasif di pusat masing-masing galaksi, yang akhirnya akan bergabung dan menghasilkan gelombang gravitasi. Dengan mendeteksi megamaser, astronom dapat mengidentifikasi sistem yang berada di tahap kritis menjelang penggabungan lubang hitam—sebuah 'hitungan mundur' kosmik yang akan diamati oleh detektor gelombang gravitasi generasi mendatang.
Bagi Indonesia, penemuan ini memiliki relevansi tidak langsung namun signifikan. Indonesia merupakan salah satu negara yang aktif dalam pengembangan astronomi radio, termasuk melalui Observatorium Bosscha dan keterlibatan dalam proyek SKA. Kemampuan MeerKAT dalam mengolah data raksasa—hingga gigabita per detik—menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan pusat data sains di Indonesia. Kolaborasi dengan IDIA dan institusi Afrika Selatan dapat membuka peluang bagi peneliti Indonesia untuk terlibat dalam analisis data SKA di masa depan.
Ke depan, para astronom berencana melakukan survei sistematis dengan MeerKAT dan SKA untuk menemukan lebih banyak megamaser di berbagai jarak. Setiap penemuan akan menjadi 'fosil' yang merekam kondisi galaksi pada era tertentu. Pertanyaan besarnya: seberapa banyak 'sejarah tersembunyi' alam semesta yang masih bisa diungkap oleh teleskop-teleskop ini? Dan mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk menjadi bagian dari revolusi astronomi radio global?



