IHSG Berbalik Arah di Sesi Awal, Investor Cermati Sikap MSCI dan Data Inflasi AS
Baca dalam 60 detik
- IHSG sempat tertekan di awal perdagangan Kamis sebelum berhasil membalikkan posisi ke zona hijau dengan kenaikan 0,35%.
- Keputusan MSCI mempertahankan status emerging market Indonesia meredakan kekhawatiran capital outflow, meski ada catatan reformasi yang akan dievaluasi November 2026.
- Tekanan eksternal dari penguatan dolar AS dan antisipasi data inflasi PCE masih membayangi pergerakan IHSG dan rupiah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (25/6/2026) dengan volatilitas tinggi, sempat merosot ke zona merah sebelum akhirnya bangkit ke level positif dalam hitungan menit. Pada pukul 09.02 WIB, indeks acuan tanah air tercatat naik 0,35% ke posisi 5.904,28, setelah sebelumnya dibuka di level 5.873,07 dan sempat menyentuh titik terendah 5.865,68.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 177 saham berhasil menguat, sementara 194 saham masih tertekan, dan 588 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi pada awal sesi mencapai Rp235,4 miliar dengan volume 331,9 juta saham yang diperdagangkan dalam 38.560 kali transaksi. Pergerakan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih bercampur, di tengah kepastian status Indonesia di mata indeks global.
Salah satu katalis utama yang menopang IHSG adalah keputusan MSCI yang kembali mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market (EM). Keputusan ini meredam spekulasi pasar mengenai potensi downgrade ke Frontier Market yang dapat memicu arus keluar dana asing secara besar-besaran. Meski demikian, MSCI masih memberikan sejumlah catatan, antara lain terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas implementasi reformasi pasar modal yang akan dievaluasi kembali pada November 2026.
Dari sisi domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah menyambut baik keputusan tersebut. Menurut OJK, hal ini menunjukkan kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia masih kuat. OJK berkomitmen melanjutkan reformasi untuk memperkuat integritas dan transparansi pasar, sementara pemerintah menilai evaluasi lanjutan MSCI merupakan bagian dari proses yang wajar.
Di sisi eksternal, perhatian investor kini tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menjadi acuan utama The Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga. Jika inflasi PCE kembali menunjukkan kenaikan, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) berpotensi menguat. Kondisi ini dapat mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury, yang pada gilirannya menekan aset berisiko seperti IHSG dan rupiah. Selain itu, pasar juga menanti data klaim pengangguran mingguan AS untuk membaca kondisi terbaru pasar tenaga kerja. Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang solid memperkuat pandangan bahwa The Fed belum memiliki ruang untuk segera memangkas suku bunga.
Tekanan eksternal ini sudah terlihat pada pergerakan rupiah. Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,50% ke level Rp17.925 per dolar AS pada perdagangan Rabu (25/6/2026). Mata uang Garuda belum mampu keluar dari tekanan dan sudah melemah selama empat hari perdagangan beruntun. Indeks dolar AS yang telah menembus level 101,609 menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah dan pasar saham domestik, seiring meningkatnya tekanan terhadap arus modal ke negara berkembang.
Ke depan, pasar akan mencermati respons investor terhadap data inflasi AS dan perkembangan reformasi pasar modal Indonesia menjelang evaluasi MSCI pada November 2026. Akankah IHSG mampu bertahan di zona hijau di tengah derasnya tekanan eksternal, atau justru koreksi lebih dalam masih mengintai?



