Dari Genset ke Ruang Kelas: Kisah Polisi dan Relawan yang Mengubah Wajah Pendidikan di Sumba
Baca dalam 60 detik
- Aipda Yanrus Pake dan Cristine Sihombing mengelola Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih di Sumba, menyediakan pendidikan gratis bagi lebih dari 300 anak dari jenjang TK hingga SMP.
- Berawal dari program air bersih pada 1999, Cristine memutuskan menetap dan membangun yayasan, lalu bertemu Yanrus yang kemudian menjadi suami dan mitra dalam mengasuh 140 anak di asrama.
- Yayasan ini telah melahirkan lulusan yang kembali mengajar dan melanjutkan studi ke perguruan tinggi, membuktikan bahwa pengabdian jangka panjang mampu memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan.

Di perbatasan Sumba Timur dan Sumba Tengah, seorang polisi dan seorang relawan telah mengubah keterbatasan menjadi ruang belajar bagi ratusan anak. Selama lebih dari dua dekade, Aipda Yanrus Pake bersama istrinya, Cristine Sihombing, mengelola Yayasan Iman Pengharapan dan Kasih di Desa Tanambana—sebuah wilayah yang dulu tanpa listrik dan jauh dari hiruk-pikuk pembangunan. Kini, yayasan itu menaungi lebih dari 300 peserta didik yang mengenyam pendidikan gratis dari TK hingga SMP, serta 140 anak yang tinggal di asrama tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Semua berawal pada 1999, ketika Cristine, relawan asal Medan, datang ke Tanambana untuk membantu program penyediaan air bersih. Niat awalnya hanya singgah sementara, tetapi pemandangan anak-anak yang kesulitan mengakses sekolah mengubah segalanya. Banyak dari mereka harus berjalan berjam-jam ke sekolah, terancam putus sekolah karena kemiskinan, atau bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di ruang kelas. “Waktu itu saya lihat banyak anak-anak yang butuh perhatian. Mereka sering datang dan main dengan kami. Sampai-sampai ada yang tidak mau pulang ke rumah,” kenang Cristine. Dari kepedulian itulah ia memutuskan menetap dan membangun fondasi yayasan.
Beberapa tahun kemudian, perjalanan Cristine dipertemukan dengan Aipda Yanrus Pake, anggota Polri yang bertugas di wilayah tersebut. Pertemuan mereka tidak dimulai dengan kisah romantis, melainkan dari kesamaan kepedulian terhadap masa depan anak-anak. Mereka menikah dan memilih tetap tinggal di Tanambana, sebuah keputusan yang jarang diambil orang: ketika sebagian besar penduduk berusaha meninggalkan daerah terpencil demi kehidupan yang lebih nyaman, pasangan ini justru menetap dan mengabdikan hidup mereka.
Perjuangan mereka tidak ringan. Bertahun-tahun, yayasan beroperasi tanpa aliran listrik. Anak-anak belajar dengan penerangan seadanya; ketika bahan bakar genset habis, waktu belajar harus dihentikan lebih awal. Suara genset menjadi irama keseharian mereka hingga listrik akhirnya masuk beberapa tahun terakhir. Tantangan lain adalah jarak: banyak anak berasal dari kampung terpencil yang harus ditempuh dengan berjalan kaki berjam-jam. Untuk mengatasi hal itu, Yanrus dan Cristine membangun asrama agar anak-anak tetap bisa bersekolah.
Hasil dari pengabdian panjang itu mulai terlihat. Sejumlah anak yang pernah diasuh berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Sebagian bahkan kembali ke Tanambana untuk mengajar di sekolah yang pernah membesarkan mereka. Yang lain melanjutkan kuliah di Kupang dengan dukungan yayasan. “Anak-anak kami bisa sekolah gratis. Ini sesuatu yang luar biasa,” ujar tokoh masyarakat setempat, Kornelis P. Retang, menggambarkan dampak yang dirasakan warga.
Kisah Yanrus dan Cristine menjadi pengingat bahwa di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses pendidikan di daerah terpencil, inisiatif individu bisa menjadi jawaban. Di Sumba, angka partisipasi sekolah masih menjadi tantangan: berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT tahun 2024, rata-rata lama sekolah di Kabupaten Sumba Timur baru mencapai 7,8 tahun—setara kelas VIII SMP. Yayasan ini hadir sebagai jembatan bagi anak-anak yang nyaris putus sekolah, memberikan mereka kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Pasangan ini membuktikan bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk bunga atau kata-kata manis. Di Tanambana, cinta menjelma menjadi bunyi bel sebelum fajar, langkah kaki yang membangunkan anak-anak menuju sekolah, dan tangan-tangan yang tak pernah lelah menjaga harapan tetap hidup. Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah kisah serupa direplikasi di pelosok lain Indonesia yang masih gelap oleh ketiadaan akses pendidikan?



