Proyeksi Cerah Micron dan Qualcomm Dongkrak Pasar Saham Chip Global, Tambah Kapitalisasi Rp6.400 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Micron Technology dan Qualcomm memicu lonjakan kapitalisasi pasar saham chip hingga lebih dari US$400 miliar setelah merilis proyeksi pendapatan yang melampaui ekspektasi analis.
- Qualcomm menargetkan pendapatan US$15 miliar dari bisnis pusat data pada 2029, menandai pergeseran strategis dari ponsel pintar ke kecerdasan buatan.
- Kenaikan ini membalikkan kekhawatiran valuasi berlebih di sektor AI, dengan indeks PHLX masih mencatat kenaikan 90% sepanjang 2026.

Saham produsen chip global mengalami reli signifikan pada perdagangan Rabu malam waktu AS, menambah nilai kapitalisasi pasar lebih dari US$400 miliar atau setara sekitar Rp6.400 triliun. Momentum ini dipicu oleh proyeksi pendapatan yang melampaui ekspektasi dari Micron Technology dan Qualcomm, menyuntikkan optimisme baru di tengah kekhawatiran valuasi sektor kecerdasan buatan (AI) yang sempat meredup.
Micron Technology melonjak 12 persen dalam perdagangan setelah jam bursa setelah memperkirakan pendapatan kuartalan di atas perkiraan analis. Perusahaan menegaskan bahwa investasi besar-besaran di infrastruktur AI akan mendorong permintaan kuat untuk chip memorinya. Sementara itu, Qualcomm mengumumkan target pendapatan US$15 miliar dari bisnis pusat data pada 2029, menandai langkah agresif keluar dari bisnis utama chip ponsel pintar menuju AI.
Kenaikan ini juga merembet ke sejumlah pemain lain. Western Digital, Sandisk, dan Seagate Technology—yang bersaing dengan Micron—masing-masing melesat lebih dari 8 persen. Arm Holdings naik sekitar 6 persen, Marvell Technology bertambah hampir 4 persen, dan Broadcom menguat 2 persen. Perusahaan peralatan manufaktur chip seperti Applied Materials dan ASML juga mencatat kenaikan lebih dari 4 persen.
Reli ini terjadi hanya sehari setelah indeks PHLX chip index anjlok 8 persen pada Selasa, dipicu kekhawatiran bahwa valuasi saham AI sudah terlalu tinggi setelah bertahun-tahun naik. Investor juga cemas bahwa belanja besar untuk membangun pusat data AI mungkin membutuhkan waktu terlalu lama untuk menghasilkan pendapatan dan laba yang memadai. Namun, proyeksi kuat dari Micron dan Qualcomm meredakan kekhawatiran tersebut, setidaknya untuk sementara.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara dengan ekosistem digital yang tumbuh pesat, permintaan chip untuk pusat data dan perangkat AI diperkirakan akan meningkat. Pemerintah Indonesia tengah mendorong pengembangan pusat data nasional dan investasi di bidang AI, yang bisa diuntungkan oleh rantai pasok global yang lebih optimistis. Namun, fluktuasi harga saham chip global juga dapat mempengaruhi biaya impor komponen elektronik dan perangkat keras teknologi di dalam negeri.
Menurut analis pasar, lonjakan ini menunjukkan bahwa fundamental permintaan AI masih kuat meskipun ada kekhawatiran valuasi. “Proyeksi Micron dan Qualcomm mengonfirmasi bahwa belanja infrastruktur AI belum mencapai puncaknya,” ujar seorang analis dari Morgan Stanley. “Investor kini kembali percaya bahwa pertumbuhan pendapatan akan mengimbangi investasi besar yang telah dikeluarkan.”
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah reli ini dapat berkelanjutan atau hanya sekadar koreksi teknis. Dengan indeks PHLX yang masih mencatat kenaikan 90 persen year-to-date, valuasi saham chip tetap tinggi. Apakah perusahaan lain seperti Intel atau AMD akan mengikuti jejak Micron dan Qualcomm dengan proyeksi serupa? Atau justru akan muncul sinyal perlambatan? Pasar akan mencermati laporan keuangan kuartal berikutnya untuk mencari jawaban.



