Qualcomm Targetkan Pendapatan Rp 240 Triliun dari Chip Data Center pada 2029
Baca dalam 60 detik
- Qualcomm memproyeksikan pendapatan bisnis pusat data mencapai US$15 miliar pada 2029, mengerek sahamnya lebih dari 12% di perdagangan setelah jam bursa.
- Perusahaan akan memproduksi chip AI khusus untuk Microsoft dan Meta, serta dua klien hyperscaler lain yang belum disebutkan namanya.
- Langkah ini menandai diversifikasi Qualcomm dari pasar ponsel yang tertekan, sekaligus menantang dominasi Nvidia di segmen chip AI.

Qualcomm mengumumkan target ambisius untuk meraup US$15 miliar dari bisnis chip pusat data pada 2029, menandai langkah agresif perusahaan keluar dari zona nyaman prosesor ponsel. Proyeksi itu langsung mendorong harga saham Qualcomm melonjak lebih dari 12% dalam perdagangan setelah jam bursa, Rabu waktu setempat.
Dalam paparan kepada investor, Direktur Keuangan Akash Palkhiwala mengungkapkan bahwa divisi pusat data diperkirakan menyumbang US$5 miliar pada tahun fiskal 2027, dengan US$1 miliar berasal dari pelanggan chip khusus baru. Secara keseluruhan, Qualcomm menargetkan pendapatan US$40 miliar dari chip di luar ponsel pada 2029, naik drastis dari estimasi sebelumnya yang hanya US$22 miliar. "Kami akan benar-benar terdiversifikasi," ujar Palkhiwala.
Langkah ini tidak lepas dari tekanan di pasar ponsel yang kian ketat. Apple dan Samsung, dua pelanggan utama Qualcomm, mulai mengembangkan chip sendiri. Di sisi lain, kelangkaan memori akibat lonjakan permintaan infrastruktur AI turut menggerus margin bisnis ponsel. Untuk merespons, Qualcomm meluncurkan kategori chip baru bernama High Bandwidth Compute (HBC) yang menggunakan memori murah ala ponsel dan laptop, bukan memori berbiaya tinggi seperti milik Nvidia. Microsoft disebut akan menjadi pengguna pertama teknologi ini.
Qualcomm juga mengumumkan bahwa Meta Platforms akan menggunakan CPU Dragonfly C1000 yang dirancang khusus untuk pusat data AI. Selain itu, perusahaan telah memenangkan dua kontrak dari "hyperscaler"โistilah untuk raksasa komputasi awanโuntuk membuat chip kustom, dengan pendapatan mulai mengalir sebelum akhir tahun kalender ini. "Saya tidak perlu memaksa masuk ke pelanggan hyperscaler; merekalah yang menarik kami," kata Tony Pialis, kepala divisi pusat data Qualcomm.
Meski optimistis, Qualcomm harus menghadapi persaingan sengit. Nvidia masih mendominasi pasar chip AI, sementara Cerebras, Amazon (Graviton), dan Google (Axion) juga menawarkan solusi kustom. Analis Bank of America sebelumnya memperkirakan pendapatan Qualcomm dari pusat data hanya US$2โ5 miliar per tahun pada 2027โ2028. Namun, dengan masuknya Microsoft, Meta, dan dua hyperscaler lain, target tersebut dinilai lebih realistis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, adopsi chip AI yang lebih terjangkau bisa mempercepat transformasi digital di sektor startup dan pemerintahan. Di sisi lain, ketergantungan pada teknologi asing semakin dalam, sementara industri semikonduktor dalam negeri masih dalam tahap awal. Pertanyaan besarnya: akankah Indonesia mampu memanfaatkan gelombang AI ini tanpa hanya menjadi pasar konsumen?



