Dibayar Rp800 Juta untuk Menonton Piala Dunia: Pekerjaan Impian atau Mimpi Buruk?
Baca dalam 60 detik
- Dua penggemar sepak bola, Kevin Akoto dan Austin Franklin, menerima bayaran Rp800 juta untuk menonton seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 dari bilik kaca di Times Square.
- Mereka harus membuat konten media sosial dan berinteraksi dengan penggemar, namun jadwal padat dengan enam pertandingan per hari mulai menguras stamina.
- Pekerjaan ini memicu perdebatan: sebagian menganggapnya surga, sementara yang lain menilai terlalu berlebihan dan kurang privasi.

Dua penggemar sepak bola asal Amerika Serikat, Kevin Akoto dan Austin Franklin, menjalani tugas yang diimpikan banyak orang: dibayar Rp800 juta (setara $50.000) untuk menonton seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 dari sebuah bilik kaca di jantung Times Square, New York. Namun, setelah lebih dari sepekan menjalani peran sebagai "Chief World Cup Watchers" untuk stasiun televisi Fox One, mereka mengakui bahwa pekerjaan ini bukan sekadar bersantai di sofa.
Bilik kaca berukuran sekitar 3×3 meter itu dilengkapi kursi malas, sofa kulit cokelat, dua televisi layar lebar, meja foosball, serta perlengkapan suporter dan camilan. Di sinilah Kevin dan Austin menghabiskan hingga 12 jam sehari untuk menyaksikan setiap laga, mulai dari babak penyisihan grup hingga final. Mereka juga harus memproduksi konten untuk media sosial dan berinteraksi dengan para penggemar yang berkerumun di luar bilik.
Kevin, seorang koki asal Florida, dan Austin, seorang influencer dari Philadelphia, berhasil mengalahkan ribuan pelamar lainnya untuk mendapatkan posisi ini. Namun, ritme enam pertandingan per hari mulai terasa berat. "Saya mulai kelelahan, Austin juga. Kami belajar untuk mengatur ritme," ujar Kevin. Austin menambahkan, "Ini benar-benar maraton. Pekerjaan yang relatif mudah—duduk di sofa menonton bola—tapi melelahkan. Saya pastikan tidur delapan jam setiap kali sempat."
Selama bertugas, keduanya sudah menyaksikan momen bersejarah, seperti rekor gol terbanyak Lionel Messi di Piala Dunia yang terjadi saat mereka sedang menikmati barbekyu Argentina. Setiap hari, mereka disajikan hidangan khas negara yang sedang bertanding—sebuah keistimewaan yang membuat pengalaman menonton semakin otentik. Di sela-sela pertandingan, mereka berinteraksi dengan ribuan suporter Brasil yang membanjiri Times Square, serta kelompok penggemar Norwegia yang melakukan selebrasi dayung ala Viking.
Bagi Austin, bagian paling berkesan adalah bertemu dengan penggemar dari seluruh dunia. "Saya sering lupa sedang di Times Square dengan orang-orang mengawasi. Saya asyik menonton 10–15 menit, lalu menoleh ke kanan dan melihat Kevin serta kerumunan di luar—saya benar-benar lupa," katanya. Kevin memprediksi Spanyol akan menjadi juara, meski ia mendukung Amerika Serikat dan Ghana karena latar belakang keluarganya. Austin, yang mengenakan jersey Norwegia, optimistis tim asal Skandinavia itu bisa mengejutkan.
Namun, tidak semua orang menganggap pekerjaan ini ideal. Eimund Liland (52), suporter Norwegia yang datang bersama putrinya Camille (15), menilai menonton 104 pertandingan tanpa privasi adalah "overdosis". Matthew Mendez (18) lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga untuk menikmati Piala Dunia. Sebaliknya, Miguel Sanchez (20) tak percaya ada pekerjaan seperti ini: "Dibayar untuk menonton Piala Dunia? Itu gila, benar-benar gila."
Fenomena ini mengingatkan pada model pekerjaan konten kreator yang semakin lazim di era digital. Di Indonesia, profesi serupa—seperti "penonton sepak bola profesional"—belum populer, namun tren menonton bersama (nobar) dan pembuatan konten sepak bola sudah marak. Apakah model seperti ini bisa menjadi peluang bagi penggemar sepak bola Tanah Air? Atau justru akan menjadi beban ketika gairah berubah menjadi rutinitas? Yang jelas, Kevin dan Austin masih harus bertahan hingga laga final—dan dunia akan terus mengawasi dari luar bilik kaca mereka.



