Lonjakan Saham Teknologi Global: Nikkei Tembus 71.000 Setelah Laba Micron Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei dibuka melesat 2,68% ke level 71.025,73, didorong oleh saham AI dan semikonduktor setelah Micron Technology merilis laba kuartalan yang melampaui ekspektasi.
- Kenaikan ini memperkuat tren bullish di pasar Asia, dengan sektor elektronik, properti, dan logam nonbesi menjadi motor penggerak utama di Tokyo.
- Bagi investor Indonesia, sentimen positif dari Wall Street berpotensi mendorong penguatan indeks LQ45 dan sektor teknologi dalam negeri, meski nilai tukar yen yang lemah perlu diwaspadai.

Bursa saham Tokyo mengawali perdagangan Kamis (26/6) dengan lonjakan signifikan, menembus level psikologis 71.000 untuk pertama kalinya dalam sepekan terakhir. Indeks Nikkei 225 melesat 1.850,76 poin atau 2,68% ke posisi 71.025,73 hanya dalam 15 menit pertama, dipicu oleh kinerja keuangan gemilang raksasa semikonduktor Amerika Serikat, Micron Technology Inc.
Laporan laba Micron yang dirilis Rabu waktu setempat menunjukkan pendapatan kuartalan melampaui perkiraan analis, terutama berkat permintaan chip memori untuk kecerdasan buatan (AI) dan pusat data. Sentimen positif ini langsung merambat ke pasar Asia, dengan saham-saham terkait AI dan semikonduktor di Tokyo menjadi primadona. Indeks Topix yang lebih luas juga naik 40,14 poin (1,01%) ke 4.003,90, menandai penguatan di hampir seluruh sektor.
Di papan utama Prime Market, sektor barang elektronik, real estat, dan logam nonbesi mencatat kenaikan terbesar. Investor memborong saham Tokyo Electron, Advantest, dan Screen Holdings โ pemasok peralatan chip โ yang masing-masing naik lebih dari 4%. Sementara itu, saham SoftBank Group, yang memiliki portofolio investasi teknologi besar, ikut terdongkrak 3,2%.
Kenaikan ini tidak lepas dari optimisme bahwa siklus penurunan permintaan semikonduktor telah berakhir. Analis Mitsubishi UFJ Morgan Stanley menilai bahwa hasil Micron menjadi katalis kuat bagi saham teknologi global. โLaporan Micron mengonfirmasi bahwa permintaan chip AI masih kuat, dan ini menjadi angin segar bagi rantai pasok semikonduktor di Asia,โ ujarnya dalam catatan riset.
Bagi pasar Indonesia, momentum ini membawa angin positif. Saham-saham teknologi di Bursa Efek Indonesia, seperti emiten yang terkait ekosistem semikonduktor dan perangkat keras, berpotensi ikut terangkat. Namun, investor perlu mencermati pergerakan nilai tukar yen yang masih lemah di kisaran 161 yen per dolar AS. Pelemahan yen dapat menekan daya saing ekspor Indonesia ke Jepang, meski di sisi lain membuat barang modal Jepang lebih murah.
Ke depan, pasar akan mencermati data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda melandai, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed bisa kembali mengerek bursa global. Pertanyaannya, akankah reli saham teknologi Tokyo bertahan hingga akhir pekan, atau justru mengalami koreksi teknikal setelah kenaikan tajam?



